
Untuk kesekian kalinya Rere kembali mengambil handphone yang dari tadi hanya tergeletak di meja kecil di samping ranjang tempat dirinya merebahkan badan. "Aahh....." desisnya kecil sembari meletakkan kembali HP yang tak pernah dimatikannya itu.
Rasa kecewa terlihat di wajah anak itu, namun dia berusaha untuk tidak kecewa. "Mungkin besok pagi," pikirnya. Yah Rere sedang menunggu sebuah SMS dari orang yang dicintainya. SMS yang memberikan ucapan selamat karena hari ini usianya bertambah lagi satu tahun.
Setiap jam 00.00 memasuki tanggal 23 biasanya kekasihnya yang memang tinggal berlainan kota dengannya tak pernah kelewatan memberikan ucapan selamat ulang tahun melalui SMS bahkan langsung ditelpon.
Tak jarang kekasihnya ngerjain dirinya dengan mematikan HP seharian sehingga membuatnya kelimpungan karena tak ada kabar dari dia, sementara dihubungi juga tidak bisa. Namun malam harinya langsung dia mendapatkan kejutan menerima telpon yang ditunggu-tunggunya.
Bahkan dia masih ingat pada tahun lalu kekasihnya bener-bener membuat kejutan, karena setelah tidak ada kabar tiba-tiba muncul di kampusnya persis di depan pintu kelas saat dirinya masih mengikuti kuliah, sambil melambaikan tangan untuknya.
"Jam dua," bisiknya lirih. Tak ada tanda-tanda kekasihnya akan mengirimkan SMS untuk dirinya. Regita memejamkan mata untuk kemudian membiarkan dirinya melayang ke alam mimpi.
Keesokan harinya seperti biasa secara spontan dia melongok kembali layar telpon genggamnya, namun tetap seperti semalam, kosong. Tak ada satupun SMS dari sang kekasih. Ini hari sabtu dan dia tahu kebiasaan pacarnya yang sering bangun siang pada hari libur.
Regita segera melalui aktivitas hari sabtunya untuk ke kampus, dia tetap masuk karena ada kuliah tambahan dari dosen bahasa Inggris. Tepat jam 10.00 HPnya berbunyi,"akhirnya"...bisiknya sumringah membaca pengirim SMS adalah Ryan kekasihnya.
"Pagi sayang....dah bangun ya. Dah makan belum?". ternyata SMS seperti hari-hari biasa. rasa kecewa sedikit menggelayuti wajahnya. Rere bertanya dalam hati kenapa kekasihnya tidak mengirimkan ucapan selamat. apakah dia lupa atau sengaja mau bikin kejutan.
Dia ingin menanyakan itu ke pacarnya namun hatinya mengatakan biarkan dulu, masih ada waktu hingga nanti malam. Belum terlambat kok. Akhirnya setelah membalas SMS Ryan, Rere kembali pada aktivitasnya.
Tak terasa hari sudah akan berganti, special day untuk Rere tinggal 5 menit lagi namun lagi-lagi belum ada satupun ucapan selamat dari kekasihnya. Hanya SMS-SMS biasa seperti yang selalu dia terima setiap hari. Dia mengambil sikap untuk tidak mempertanyakan itu dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya meskipun rasa kecewa sempat menggelayuti hatinya.
Dua hari sudah berlalu dari tanggal 23 dan tak ada satupun ucapan selamat dari kekasihnya. Rere tak akan mempertanyakan itu, kalaupun kekasihnya ingat dan kemudian mengucapkan selamat biarkan saja itu terjadi tanpa dia ingatkan. Kalaupun dia lupa Rere akan menerimanya.
"Bip....bip....bip". Sebuah sms masuk dan segera dia membacanya. "Apa kabar?" isi SMS dari nomer yang tidak terlalu dihapalnya namun dia sedikit ingat si pengirim pernah dikenalnya. Yah, teryata dari Irma, teman sebangku di kereta ketika hendak sama-sama ke Jakarta dari Bandung tujuh bulan lalu. Setelah berbasa-basi dengan menanyakan kabar dan sebagainya, Irma yang selama ini tak pernah mengirim kabar ataupun sekedar SMS ke dia tiba-tiba bertanya, "Kamu kenal Ryan,?".
"Ryan mana? Banyak nama Ryan yang aku kenal" jawab Rere singkat. "Ryan Bandung," jawab Irma melalui SMSnya.
Rere terhenyak sebentar, dia mencoba berpikir apakah Ryan yang dimaksud adalah kekasihnya. Kalau memang dia, apa maksudnya Irma bertanya itu. "Ryan mana. Di Bandung kan banyak nama Ryan" tanyanya meyakinkan. "Ryan yang di FSnya 'sang pangeran' itu." kembali sebuah SMS meluncur dari Irma.
Rere semakin terheran, darimana Irma tahu dia kenal Ryan dan kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu.
"Kamu kenal Ryan kan?" belum sempat Rere membalas SMS dari Irma sebelumnya kini sudah muncul SMS susulan."Seberapa jauh kamu kenal dia?" sambungnya lagi.
"Aku mengenal dia seperti kamu kenal dirinya," jawab Rere asal. Regita memang tidak suka ditanya tentang kehidupan pribadinya apalagi oleh orang yang tidak terlalu akrabnya.
"Jadi kamu mantannya Ryan?," SMS Irma beruntun bagaikan peluru yang ditembakan seorang prajurit di medan perang.
"Blaaarr.....,"rasa kaget menyeruak dalam pikiran Regita. Apa maksud Irma bilang seperti itu? Dia tergagap dengan pertanyaan itu. "Mantan?" bisiknya ternganga.
Rere sendiri heran, darimana Irma tahu hubungan dia dengan Ryan, tapi kenapa dia menyebut rere sebagai mantan Ryan? keduanya tidak pernah berkomunikasi meskipun saling kenal, toh karena kenal hanya sambil lalu di kereta. Apalagi sampai menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang yang tak terlalu akrab dengan dirinya.
Rasa penasaran dan gelisah bercampur aduk dalam dada Rere. Rasa keingintahuannya mendadak menyeruak dan dia ingin kejelasan dari apa yang didengarnya baru saja. Tak puas dengan SMS Regita langsung calling Irma. "Darimana kamu tahu aku ada hubungan sama Ryan?" tanya Rere menyelidik.
"Dari testi yang dia kirim ke kamu, ucapan-ucapan yang dia berikan untuk kamu," jawaban pendek terucap dari mulut Irma.
"Testi yang dia kirim ke aku sepertinya biasa saja dan ga ada yang istimewa. Ucapan-ucapan itu juga dia kirimkan ke temen-temen FS lainnya," kata Rere memotong.
"Oke lah kalau aku salah orang sorry. Tapi aku cuma ingin memastikan bahwa kamu memang benar mantannya dia seperti yang dia ceritakan ke aku," kata Irma menimpali.
Rere bagaikan tertimpa runtuhan batu dari pegunungan. Apa yang diceritakan Ryan ke Irma? Jadi kekasihnya cerita ke Irma kalau dirinya adalah mantan Ryan?
Namun dia mencoba tak terpengaruh dengan apa yang didengarnya. Dia merasa mengenal Ryan begitu dalam. Dia tahu seperti apa sosok lelaki yang sudah empat tahun menjadi kekasihnya itu.
Ya Rere dan Ryan sudah menjalani pacaran sejak mereka kelas satu SMA hingga saat ini sudah berjalan empat tahun lebih. Selama itu pula dia tahu Ryan adalah sosok pria yang setia tak pernah mau berhubungan dengan yang lain bahkan sekedar untuk berteman saja. Ryan selalu beralasan menjalin pertemenan dengan orang lain bisa menjadi pintu untuk menuju perselingkuhan.
Dia juga tahu kekasihnya adalah anak rumahan yang tak pernah jalan-jalan dengan yang lain kecuali dengan temen-temen sekolah atau kuliahnya. Namun kini seolah-olah dia menjadi tidak mengenal sama sekali Ryan kekasihnya. Lelaki yang masih senang di manja itu tiba-tiba seperti menjadi asing baginya.
"Dia cerita kalau kalian pacaran saat SMA. Kamu adalah pacar pertamanya. Kamu adalah pacarnya saat di SMA. Kamu adalah mantannya," kata Irma.
"Oh ya?" ucap Rere lirih dengan bibir bergetar.
"Dia cerita, kalian pernah berantem di SJ Plaza. Bener kan,?" sambung irma lagi.
Apa yang diceritakan Irma tentang dia dengan kekasihnya ternyata benar semua, bahkan Rere tak menyangka kalao Ryan tega menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya kepada orang yang tak dikenalnya.
"Lalu ada hubungan apa kamu dengan Ryan?" tanya Rere dengan nada cemas.
"Aku memang seperti kamu. Aku juga mantannya Ryan." Irma menjawab singkat. "Aku pacaran dengan Ryan hanya tiga bulan, April sampai Agustus. Setiap hari kami selalu bertemu karena aku satu kampus dengan dia," ungkapnya panjang lebar. "Tapi aku tak tahu kenapa dia tiba-tiba mutusin aku." terbersit nada marah sekaligus sedih dari ucapan Irma.
"Jadi.....jadi....selama ini?" Rere terkesiap mendengar pengakuan Irma. Seribu pedang bagai menusuk jantungya, seribu godam bagai meremuk kepalanya, pandangannya berkunang-kunang. Tak kuasa menyangga badannya Rere limbung masih menggenggam telepon genggam di tangannya. "Hallo....hallo...." suara Irma dari seberang.
Pukul 06.00 pagi ponsel Rere bunyi. Matanya yang masih ngantuk membuatnya enggan untuk bangun namun dia segera ambil HP itu untuk ngelihat isi SMS. Tak terasa sudah semalaman dia tertidur.
Gambar seekor kelinci gendut membawa seikat mawar dengan taburan jantung hati meluncur ke HPnya. Di bawahnya tertulis "Kado Istimewa Untuk Kekasihku: Your love-Ryan".
Disusul SMS yang lain......"Hai sayang, met ulang tahun ya, semoga semua keinginanmu bisa terwujud dan mendapatkan semua yang terbaik untukmu. Meskipun telat namun doaku tulus, untukmu orang yang paling aku cintai." Sebulir air bening menetes dari pelupuk mata bulat Regita. Entah air mata keharuan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari kekasihnya atau air mata kesedihan justru di saat-saat istemawa untuknya dia mendapati sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.