Jam 3 sore aku jalan ke Sabang (maksudnya Jalan Sabang) untuk cari makan siang. pengen banget makan soto Kudus (aku suka banget dengan makanan ini), lumayan satu porsi dah kenyang n badan jadi hangat. selain diriku, ada sepasang laki perempuan juga makan warung soto langgananku itu.
Pas lagi tengah makan, masuklah seorang lelaki penjual buku-buku bacaan dan langsung menawarkan barang daganganya pada pasangan yang lagi makan itu. Ditunjukkanlah berbagai judul novel seperti tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, hingga Maryamah Karpovnya Andrea Hirata, Ketika Cinta Bertasbih, novel2 terjemahan, kamus2 bahasa asing maupun Alquran.
Si perempuan melihat novel Edensor.
"berapa harganya pak," tanyanya.
"Lima pulu (ribu)," ujar sipenjual buku.
Perempuan itu langsung menawar dengan harga yang sangat mengejutkanku. "20 ribu deh," katanya.
"gak bisa mbak. belum dapat," kata si penjual buku.
keduanya diam,. si penjual seperti mikir2 kemudian bilang " kurang dikit ya? saya cuma dapat 10 persen." kemudian disambung," 45 ya?."
"dua puluh," ucap perempuan itu tanpa ekspresi.
"Belum dapat," ujar bapak itu lagi.
sambil menyantap semangkok kecil soto kudus dengan cemilan telur puyuh pindang aku memperhatikan tawar-menawar tersebut. hatiku sempat bergejolak juga melihat perempuan itu begitu rendahnya menawar sebuah buku best seller di tanah air. "hanya 20 ribu,?" tanyaku dalam hati sambil memandang tajam ke perempuan itu seperti hendak mengatakan "tega amat sih."
Si penjual buku yang ternyata orang Jawa-- begitu juga perempuan itu juga dari Jawa (Jawa Tengah maksudnya)-- kemudian menurunkan harga bukunya menjadi Rp35 ribu, tapi si perempuan tetap pada pendiriannya Rp20 ribu.
"ya udah 25 ribu ya mbak," kata penjual buku itu dengan mimik memelas berharap calon pembelinya mau menaikkan tawarannya. "sebagai penglaris" sambungnya.
Lagi-lagi perempuan itu bergeming pada tawarannya Rp20 ribu. pikir punya pikir akhirnya penjual buku mengalah dan melepas Edensor Rp20 ribu sementara di toko Rp50 ribu.
Fantastis, pikirku. Aku pingin marah pada perempuan itu, karena dia menghargai karya sastra begitu rendah tapi sekaligus kagum juga dengan kemampuannya menawar. setelah menerima pembayaran dari perempuan itu penjual buku beralih kepadaku untuk menawarkan dagangannya. aku penasaran dan akhirnya membeli dua buku Sang Pemimpi dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dengan harga Rp25 ribu dan Rp30 ribu masing-masing dapat potongan 50 persen dari harga yang tertera. Aku tak tega untuk menawar lebih rendah lagi.
Sesampai di kantor aku buka kedua buku tersebut dari plastik pembungkusnya. aku yang tadi ingin marah pada perempuan itu kini beralih kemarahanku pada si penjual buku......pantas saja buku-buku yang dijual hasil bajakan!! dia pantas menerima tawaran yang paling rendah karena ikut menjual barang hasil "curian"!!!.
Pas lagi tengah makan, masuklah seorang lelaki penjual buku-buku bacaan dan langsung menawarkan barang daganganya pada pasangan yang lagi makan itu. Ditunjukkanlah berbagai judul novel seperti tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, hingga Maryamah Karpovnya Andrea Hirata, Ketika Cinta Bertasbih, novel2 terjemahan, kamus2 bahasa asing maupun Alquran.
Si perempuan melihat novel Edensor.
"berapa harganya pak," tanyanya.
"Lima pulu (ribu)," ujar sipenjual buku.
Perempuan itu langsung menawar dengan harga yang sangat mengejutkanku. "20 ribu deh," katanya.
"gak bisa mbak. belum dapat," kata si penjual buku.
keduanya diam,. si penjual seperti mikir2 kemudian bilang " kurang dikit ya? saya cuma dapat 10 persen." kemudian disambung," 45 ya?."
"dua puluh," ucap perempuan itu tanpa ekspresi.
"Belum dapat," ujar bapak itu lagi.
sambil menyantap semangkok kecil soto kudus dengan cemilan telur puyuh pindang aku memperhatikan tawar-menawar tersebut. hatiku sempat bergejolak juga melihat perempuan itu begitu rendahnya menawar sebuah buku best seller di tanah air. "hanya 20 ribu,?" tanyaku dalam hati sambil memandang tajam ke perempuan itu seperti hendak mengatakan "tega amat sih."
Si penjual buku yang ternyata orang Jawa-- begitu juga perempuan itu juga dari Jawa (Jawa Tengah maksudnya)-- kemudian menurunkan harga bukunya menjadi Rp35 ribu, tapi si perempuan tetap pada pendiriannya Rp20 ribu.
"ya udah 25 ribu ya mbak," kata penjual buku itu dengan mimik memelas berharap calon pembelinya mau menaikkan tawarannya. "sebagai penglaris" sambungnya.
Lagi-lagi perempuan itu bergeming pada tawarannya Rp20 ribu. pikir punya pikir akhirnya penjual buku mengalah dan melepas Edensor Rp20 ribu sementara di toko Rp50 ribu.
Fantastis, pikirku. Aku pingin marah pada perempuan itu, karena dia menghargai karya sastra begitu rendah tapi sekaligus kagum juga dengan kemampuannya menawar. setelah menerima pembayaran dari perempuan itu penjual buku beralih kepadaku untuk menawarkan dagangannya. aku penasaran dan akhirnya membeli dua buku Sang Pemimpi dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dengan harga Rp25 ribu dan Rp30 ribu masing-masing dapat potongan 50 persen dari harga yang tertera. Aku tak tega untuk menawar lebih rendah lagi.
Sesampai di kantor aku buka kedua buku tersebut dari plastik pembungkusnya. aku yang tadi ingin marah pada perempuan itu kini beralih kemarahanku pada si penjual buku......pantas saja buku-buku yang dijual hasil bajakan!! dia pantas menerima tawaran yang paling rendah karena ikut menjual barang hasil "curian"!!!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar