Sabtu, 16 Mei 2009

gorontalo-manado

Hari masih siang ketika pesawat yang kami tumpangi dari Jakarta tiba ke bandara Gorontalo, tepatnya sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Itulah awal perjalanan kami menjelajahi sebagian kawasan pulau Sulawesi selama empat hari dari 13-16 April 2009.
Dari Bandar Udara Djalaludin kami berenam yakni Antara, AgroIndonesia, Republika, Sinar Tani, Pikiran Rakyat dan Sinar Harapan menuju ke Kabupaten Pohuwatu untuk bergabung dengan rombongan Menteri Pertanian yang sudah terlebih dahulu di sana.
Tanpa melalui hambatan yang berarti, perjalanan darat dari Gorontalo ke Pohuwatu ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam atau sekitar pukul 16.00 waktu setempat kami bertemu dengan rombongan wartawan yang sejak 9 april sudah mengikuti rally Mentan dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat hingga Sulawesi Tengah.
Akhirnya tongkat estafet diserahkan ke rombongan kami untuk mengikuti perjalanan Menteri Pertanian etape II dari Gorontalo hingga Manado Sulawesi Utara.
Ada yang unik di Kabupaten Pohuwatu yakni tempat Mentan menggelar acara adalah di sebuah pondok pesantren yang cukup besar dan terkenal (banyak santri yang bahkan berasal dari Jawa) namun lokasinya di wilayah masyarakat transmigran asal Bali yang notabene kebanyakan beragama Hindu. Hal itu terlihat dari sepanjang kanan kiri jalan yang banyak terdapat bangunan Pura. Pohuwatu sebuah kota kecil untuk mencari penginapan yang layakpun harus berputar-putar hingga akhirnya kami mendapatkan penginapan yang cukup istemewa yakni bercampur dengan kandang ayam...hee..hee..hee.
Tanpa dengan Menteri Pertanian, karena dia harus balik ke Jakarta, setelah ada panggilan Presiden, hari kedua perjalanan dimulai dengan meninjau sawah di Desa Duhiadaa untuk kemudian meninjau pusat pembibitan ternak sapi potong di UPTD dengan pimpinan Kabadan Litbang Gatot Irianto.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan dari Gorontalo menuju ke Kabupaten Bolang Mongondow Utara wilayah Sulawesi Utara. Menuju kota ini kami baru merasakan benar-benar melakukan penjelajahan. Menyusuri wilayah Sulawesi yang masih berhutan-hutan, sesekali melewati padang serta kawasan-kawasan pemukiman penduduk dengan kondisi jalan yang kadang lurus namun tak jarang berkelok-kelok menembus pegunungan dengan guyuran hujan serta sempat terhadang tanah longsor.
Sampai Bolmut sudah menunjukkan pukul 22.00 lebih waktu setempat dan masih ada pertemuan dengan dinas setempat. selesai pertemuan saatnya istirahat dan menuju ke penginapan. kami berharap mendapatkan kamar yang lebih baik dari hrai pertema. Setelah berjuang dan susah payah mencari penginapan akhirnya dapatlah hotel Endang Rahayu, yang ternyata.... jauh banget dari "rahayu" (bc: bawah standar) .
Bangunan penginapan itu seperti rumah2 koboi di film2 western, dari kayu dan berlantai dua, tempat tidurnyapun yang bertingkat dan di kamarku ada tiga. sedangkan untuk mandi dikamar mandi luar harus antri. Mungkin karena capek menikmati perjalanan, tidur di "barak" dan dengan banyak nyamuk serta bau apak, tak begitu dirasakan hingga pagi menjelang.
Dari Bolmut paginya perjalanan dilanjutkan ke Minahasa Selatan untuk melihat kawasan hortikultura, tepatnya perkebunan kentang, di Mondoinding. Pemandangan kiri kanan jalan yang mempesona membuat hati berdecak kagum dengan keindahan sebagian wilayah Indonesia ini. Danau Matoaa bagai seorang puteri yang belum terjamah lelaki, begitu anggun dengan ketenangan dan kejernihan airnya, hijau hutan sepanjang tepian danau menambah keanggunannya. Usai melewati danau segeralah nampak perkebunan sayur seperti bawang merah, kentang maupun kol yang menghampar luas ganti berganti bagai rangkaian karpet tergelar di kaki pegunungan hingga sampailah kami ke wilayah sentra produksi kentang di MOndoinding. Ah...ternyata tak hanya pesona alam Minahasa Selatan yang memancarkan nuansa bening namun juga dari kemolekan paras wajah berkulit putih masyarakatnya yang sudah terkenal sejak dahulu. Tak heran jika mata kami tak pernah berkedip dan mulut tak henti berdecak kagum setiap melihat "keindahan-keindahan" melintas di depan kami.

Usai dari Mondoinding Minsel perjalanan dilanjutkan ke kawasan danao Tondano. Sayang sekali sampai di danao yang amat terkenal itu hari sudah malam sehingga keindahannya kurang terpancar dan tak bisa kami nikmati saat menghabiskan waktu santap malam. Dari Tondano kami menuju ke Manado untuk menghabiskan malam terakhir dari perjalanan di Sulawesi, sekitar pukul 24.00 sampai ke tempat penginapan. Syukurlah di malam ke tiga ini kami bisa tidur di ranjang yang lebih empuk dan nikmat dari malam-malam sebelumnya (Ya iyalah kan di hotel berbintang..hee..heee).
Karena jauh dari pusat kota dan sudah terlalu malam, plus capek akhirnya malam itu kami habiskan dengan tidur sepuasnya, apalagi besuknya acara juga tidak terlalu pagi, jadi bisa agak santai. Paginya......nikmati pemandangan pantai nan biru di belakang hotel. Begitu indah! Air yang masih jernih, pasir yang bersih serta langit yang membiru membentuk nuansa nan alami di lokasi tersebut. Siang konpers dengan Menteri Pertanian di sebuah rumah makan dengan latar belakang pantai. Sekitar pukul 14.00 kami meninggalkan Manado untuk kembali ke dunia nyata di Jakarta.

1 komentar:

zaeshu mengatakan...

wah jadi ngiri liat pantai nya