Rabu, 11 Februari 2009

cinta dan nyawa

Cinta laksana nyawa manusia. ketika manusia sedang dalam kebahagiaan, hidupnya penuh dengan kegembiraan, keceriaan, memiliki harta berlimpah maka dia ingin hidup untuk selama-lamanya. Saat dihadapkan pada kematian, dia mencoba untuk menghindarinya sejauh mungkin bahkan dia tak kan rela jika malaikat maut meminta nyawanya untuk diambil. Nyawa adalah harta yang sangat berharga bagi manusia dan dia berusaha untuk melindunginya dengan cara apapun agar bisa dimilikinya hingga ujung waktu. Namun ketika manusia sudah dalam penderitaan, hidup dalam kesengsaraan dalam waktu yang sangat lama seringkali hidup bukanlah hal yang mewah lagi, bahkan kematianpun dia relakan karena dengan hilangnya nyawa dari tubuh maka lenyaplah sudah penderitan dan kesengsaraan yang dialaminya di dunia. Bahkan ketika Tuhan masih memberikannya hidup sekalipun manusia justru meminta agar nyawanya segera diambil agar lepas segala derita dan sengsara yang membelenggunya. Karena selama raga masih menyatu dengan nyawa maka sakit, derita, sengsara akan dirasakannya. Begitu juga dengan cinta, ketika kita masih merasakan kebahagiaan dengan cinta yang kita alami maka kehilangan cinta merupakan penderitaan yang amat sangat dirasakan. Kita ingin Tuhan memberikan kesempatan untuk selalu bersamanya melewati hari-hari yang bahagia, kita tak mau kehilangan dia sedetikpun. Cinta sudah seperti nyawa bagi manusia, akan mati sepertinya jika kita kehilangan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Namun ketika cinta sudah membawa penderitaan bagi kita, kenestapaan bagi pasangan yang mencinta, seperti halnya nyawa, kita rela jika itu dicabut. selama cinta masih ada maka penderitaan itu masih akan terasakan, oleh karena itu jika kematian adalah pintu terbaik untuk melepaskan diri dari penderitaan, begitu juga melepaskan diri dari cinta (yang menyengsarakan) adalah jalan terbaik untuk memperoleh kembali kebahagiaan. Mungkin hal itulah yang dirasakan oleh pasangan yang akhirnya memutuskan bercerai karena cinta tidak lagi memberinya kebahagiaan sehingga semakin lama dipertahankan justru semakin lama ketidakharmonisan yang akan dialami, sama seperti manusia yang diujung kematian, semakin lama nyawanya tetap menyatu dengan raganya maka semakin lama pula deritanya.

Tidak ada komentar: