Sabtu, 30 Mei 2009

pesona madura

Madura. Barangkali bayangan kita langsung tertuju pada sosok lelaki berbaju dan bercelana hitam komprang lengkap dengan kaos garis-garis merah serta membawa senjata clurit dan tampang yang sangar. Atau mungkin kita membayangkan sebuah daerah yang gersang dan panas dengan hanya hamparan tanaman jagung di kanan-kiri jalanan yang kita lalui.
Barangkali apa yang ada dalam pikiran kita itu tidaklah salah, namun bukan berarti benar 100 persen. Lho....lalu?
Selama ini citra Madura di media massa sebagai penghasil jagung maupun garam tentu memiliki iklim yang panas sementara sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tak segan mengadu nyawa untuk membela diri semakin mempertebal kesan-kesan itu.Namun mengikuti perjalanan Menteri Pertanian Anton Apriyantono selama 21-22 Mei 2009 lalu ke pulau yang terkenal dengan Karapan atau balapan Sapi nya itu sungguh membuat luntur seluruhan banyangan yang melekat selama ini tentang Madura tersebut, bahkan yang ada hanyalah kekaguman terhadap pulau itu. Kamis pagi, pelabuhan Ujung Surabaya telah ramai dengan aktivitas penyeberangan. Pulau Madura yang dipisahkan dengan Pulau Jawa oleh Selat Madura itu tak menghentikan hilir mudik warga pulau tersebut yang hendak ke Jawa ataupun sebaliknya. Dengan menaiki kapal fery perjalanan melintasi selat tersebut hanya menempuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pelabuhan Kamal di Bangkalan Madura.
Singgah sejenak di Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, kemudian rombongan mengawali perjalanan menuju Desa Langkap Kecamatan Burneh Bangkalan untuk melihat keberhasilan peternak sapi Madura. Kabupaten Bangkalan yang merupakan wilayah paling barat Pulau Madura memiliki dua komoditas hortikultura unggulan yakni Melati Ratoh Ebuh dan Salak Kramat.Melati Ratoh Ebuh yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian melalui Keputusan Mentan no 515/2005 banyak dihasilkan di Kecamatan Burneh dengan luas tanaman 17,03 ha dan luas panen 17,03 ha serta produksi 0,34 kg/meter persegi.
Menurut catatan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangkalan, produksi Melati Ratoh Ebuh yang memiliki aroma sangat harum dan warna putih bersih itu pada 2009 sekitar 57,91 ton.Perjalanan hampir dua jam itu ditempuh tanpa rasa bosan karena sepanjang kanan kiri jalan terlihat pohon-pohon asam yang sudah berumur tua masih tegak berdiri, sesekali diselingi dengan hutan jati.

Dari Desa Langkap kami menuju Pondok Pesantren Al Hamidiyah di Kecamatan Konang yang merupakan wilayah paling timur kabupaten Bangkalan dan berbatasan dengan Kabupaten Sampang. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Tombaru Barat, Kecamatan Ketapang untuk melihat perkebunan jambu mete. Sayang sekali pada saat itu sedang tidak musim jambu mete sehingga kami tidak bisa merasakan segarnya buah yang juga disebut jambu monyet itu. Namun melihat pepohonan berusia di atas 30 tahun itu sungguh mengesankan. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Taruna Tani M.Sira mengungkapkan biji mete selain untuk konsumsi juga bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif yakni bioethanol dan biopremium.Selain itu minyak dari kulit biji mete juga bisa dimanfaatkan untuk bahan pembuatan cat, pelumas, kompos atau pupuk organik baik padat maupun cair.Harga biji mete tergolong tinggi yakni Rp8.000/kg untuk yang belum dikupas sedangkan yang telah dikupas kulitnya mencapai Rp60.000/kg.
Kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumenep. Perjalanan menuju kabupaten yang memiliki keraton ini sekitar satu setengah jam menempuh jalur pantai utara Madura. Tak disangka ternyata pantai-pantai di kawasan ini cukup mempesona dengan keindahan alam dan suasana yang tidak terlalu ramai sehingga air di pantai masih kelihatan jernih kebiruan. Suasana yang sudah memasuki senja semakin menambah keindahan nuansa alam sepanjang pantai utara Madura.
Malam hari rombongan menginap di Kabupaten Sumenep. Pagi hari perjalanan berlanjut untuk melihat pabrik pupuk organik di Desa Saronggi. Namun sebelumnya kami sempat mengunjungi pemakaman raja-raja Sumenep, Astana Tinggi. Kompleks pemakaman yang terletak di atas bukit itu bangunannya masih terlihat berdiri megah, meski tak bisa dipungkiri gurat-gurat ketuaan terlihat pada tembok-tembok yang sudah mulai mengelupas. Sepanjang kiri-kanan jalan menuju ke makam utama Astana Tinggi akan terlihat kompleks-kompleks makam kuna yang sebenarnya layak untuk dijadikan tujuan wisata.
Perjalanan kemudian berlanjut untuk menuju kebun Buah Naga yang ada di Desa ROmbesan Kecamatan Pragan, masih di Sumenep. Menurut pengakuan seorang petani buah naga, keistimewaan buah naga dari Madura yakni dari segi rasa lebih baik dibandingkan produk serupa dari wilayah lain.Fitriah, petani buah naga di Desa Rombesan mengakui, pada 2006 penjual dan pembudidaya buah naga di tempatnya masih sedikit sehingga dirinya bisa mengantongi pendapat Rp800.000-Rp1 juta per hari dari berjualan komoditas tersebut. "Namun saat ini sudah berkurang banyak karena penjualnya juga semakin banyak," katanya.Meskipun demikian, perempuan itu mengaku, permintaan buah naga tak pernah surut bahkan dirinya selalu kehabisan persediaan hanya untuk melayani penjualan di pinggir jalan.Hujan sempat mengguyur wilayah ini di tengah kegiatan temu wicara Menteri Pertanian dengan petani buah naga. Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Pamekasan. Perjalanan sekitar 1 jam 30 menit itu melalui pantai selatan Madura yang terdapat pohon siwalan, sejenis aren. Setelah Sholat Jumat di Mesjid Agung Pamekasan yang berlokasi tepat di tengah kota di samping alun-alun, kemudian menuju pendopo Pemda untuk berdialog dengan petani, penyuluh maupun unsur masyarakat lainnya.
Desa Camplong yang merupakan sentra jambu Camplong di Kabupaten Bangkalan sebagai tujuan terakhir rombongan melakukan perjalanan di Pulau Madura. Dua malam di Pulau Madura ternyata telah merubah bayangan kami terhadap pulau yang dijuluki Pulau Garam itu. Madura ternyata tidak hanya merupakan penghasil jagung maupun garam namun juga memiliki potensi pertanian lainnya.
Tak hanya keindahan alam dan beragamnya potensi pertanian namun kerajinan batik maupun ukiran serta penduduk yang ternyata tidak segarang jawara-jawara di televisi bahkan tak sedikit wajah-wajah nan indah terlihat dengan senyumnya membuktikan bahwa Madura ternyata memiliki daya eksotika yang masih tersimpan selama ini.


















Tidak ada komentar: