sebenarnya bukan hanya krn kamusnya yang lucu, tapi belakangan ini aku lagi tertarik mempelajari bahasa Perancis. Waktu SMA dulu , di kelas 2 ma 3 sebenarnya pernah mendapatkan pelajaran bahasa Perancis, tapi biasalah namanya pelajaran sekolah lebih mentingin grammar jadi kelihatan sulit banget (emang sulit sih ya) ditambah gurunya --Monsieur Sugito--ngajarnya ga menarik, pas jam terakhir lagi--ngantuk ka?-- duh semakin males aja ngikutin pelajaran itu, padahal aku tertarik n suka ama bahasa asing termasuk Perancis sejak dulu juga. Akhirnya setelah lulus SMA sampai skrg hanya jadi harta karun terpendam aja (maksudnya ga pernah dipelajari lagi..hee..hee), tapi akhir-akhir ini aku kembali tertarik untuk bisa menguasai bahasa itu. Mungkin karena sekarang memiliki "partner" bicara jadi tertantang lagi untuk belajar bahasa Perancis. Meskipun hanya memahami kata per kata jika dia bicara or nulis pake bahasa Perancis, tapi lumayan juga buat ngingetin lagi yang dulu (20 tahun) pernah dipelajari.
Senin, 19 Januari 2009
parle francais
sebenarnya bukan hanya krn kamusnya yang lucu, tapi belakangan ini aku lagi tertarik mempelajari bahasa Perancis. Waktu SMA dulu , di kelas 2 ma 3 sebenarnya pernah mendapatkan pelajaran bahasa Perancis, tapi biasalah namanya pelajaran sekolah lebih mentingin grammar jadi kelihatan sulit banget (emang sulit sih ya) ditambah gurunya --Monsieur Sugito--ngajarnya ga menarik, pas jam terakhir lagi--ngantuk ka?-- duh semakin males aja ngikutin pelajaran itu, padahal aku tertarik n suka ama bahasa asing termasuk Perancis sejak dulu juga. Akhirnya setelah lulus SMA sampai skrg hanya jadi harta karun terpendam aja (maksudnya ga pernah dipelajari lagi..hee..hee), tapi akhir-akhir ini aku kembali tertarik untuk bisa menguasai bahasa itu. Mungkin karena sekarang memiliki "partner" bicara jadi tertantang lagi untuk belajar bahasa Perancis. Meskipun hanya memahami kata per kata jika dia bicara or nulis pake bahasa Perancis, tapi lumayan juga buat ngingetin lagi yang dulu (20 tahun) pernah dipelajari.
Senin, 12 Januari 2009
puisi pencerahan

Malam ini aku baca puisi2 karya Yoga (penjual nasi angkring yang berjuang untuk tetap kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Semarang) yg dimuat di Kompas.com, isinya banyak menyoroti persoalan sosial di masyarakat, ada sesuatu yang menyeruak dalam diriku. syair2 itu seperti menjadi obat (bener-bener obat) aku yang beberapa hari ini gelisah, badan terasa sakit semua, tiba-tiba ada energi yang mengalir dalam diriku, ada beban yang terangkat dari dalam jiwaku. Tulisan2 dia menyadarkanku selama ini aku terlalu melihat ke dalam diriku dan inilah yang menjadikanku terbelit dalam persoalan yang sebenarnya sangat sepele dan tidak semestinya membuatku selalu resah hingga badan tak nyaman. Banyak kejadian dunia di luar sana yang masih lebih penting untuk dipikirkan daripada terbelenggu dengan bayangan yang berputar-putar dalam otak sendiri, banyak keindahan yang bisa diperoleh dengan membuka jendela hatiku untuk melihat dunia sekeliling yang masih luas daripada terkungkung dalam dunia sempit bagai labirin di malam hari. Tak semestinya aku terpuruk dalam duniaku sendiri sementara dunia luar meminta diriku untuk menengoknya. Aku seperti mendapatkan pencerahan baru dalam memandang pergolakan di dalam jiwaku. Aku juga mendapatkan penawar "racun" yang menjalari urat-urat nadiku selama ini. Thanx bro, you've give me a new power to get into the real world!
Sabtu, 10 Januari 2009
perempuan dan penjual buku
Jam 3 sore aku jalan ke Sabang (maksudnya Jalan Sabang) untuk cari makan siang. pengen banget makan soto Kudus (aku suka banget dengan makanan ini), lumayan satu porsi dah kenyang n badan jadi hangat. selain diriku, ada sepasang laki perempuan juga makan warung soto langgananku itu.
Pas lagi tengah makan, masuklah seorang lelaki penjual buku-buku bacaan dan langsung menawarkan barang daganganya pada pasangan yang lagi makan itu. Ditunjukkanlah berbagai judul novel seperti tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, hingga Maryamah Karpovnya Andrea Hirata, Ketika Cinta Bertasbih, novel2 terjemahan, kamus2 bahasa asing maupun Alquran.
Si perempuan melihat novel Edensor.
"berapa harganya pak," tanyanya.
"Lima pulu (ribu)," ujar sipenjual buku.
Perempuan itu langsung menawar dengan harga yang sangat mengejutkanku. "20 ribu deh," katanya.
"gak bisa mbak. belum dapat," kata si penjual buku.
keduanya diam,. si penjual seperti mikir2 kemudian bilang " kurang dikit ya? saya cuma dapat 10 persen." kemudian disambung," 45 ya?."
"dua puluh," ucap perempuan itu tanpa ekspresi.
"Belum dapat," ujar bapak itu lagi.
sambil menyantap semangkok kecil soto kudus dengan cemilan telur puyuh pindang aku memperhatikan tawar-menawar tersebut. hatiku sempat bergejolak juga melihat perempuan itu begitu rendahnya menawar sebuah buku best seller di tanah air. "hanya 20 ribu,?" tanyaku dalam hati sambil memandang tajam ke perempuan itu seperti hendak mengatakan "tega amat sih."
Si penjual buku yang ternyata orang Jawa-- begitu juga perempuan itu juga dari Jawa (Jawa Tengah maksudnya)-- kemudian menurunkan harga bukunya menjadi Rp35 ribu, tapi si perempuan tetap pada pendiriannya Rp20 ribu.
"ya udah 25 ribu ya mbak," kata penjual buku itu dengan mimik memelas berharap calon pembelinya mau menaikkan tawarannya. "sebagai penglaris" sambungnya.
Lagi-lagi perempuan itu bergeming pada tawarannya Rp20 ribu. pikir punya pikir akhirnya penjual buku mengalah dan melepas Edensor Rp20 ribu sementara di toko Rp50 ribu.
Fantastis, pikirku. Aku pingin marah pada perempuan itu, karena dia menghargai karya sastra begitu rendah tapi sekaligus kagum juga dengan kemampuannya menawar. setelah menerima pembayaran dari perempuan itu penjual buku beralih kepadaku untuk menawarkan dagangannya. aku penasaran dan akhirnya membeli dua buku Sang Pemimpi dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dengan harga Rp25 ribu dan Rp30 ribu masing-masing dapat potongan 50 persen dari harga yang tertera. Aku tak tega untuk menawar lebih rendah lagi.
Sesampai di kantor aku buka kedua buku tersebut dari plastik pembungkusnya. aku yang tadi ingin marah pada perempuan itu kini beralih kemarahanku pada si penjual buku......pantas saja buku-buku yang dijual hasil bajakan!! dia pantas menerima tawaran yang paling rendah karena ikut menjual barang hasil "curian"!!!.
Pas lagi tengah makan, masuklah seorang lelaki penjual buku-buku bacaan dan langsung menawarkan barang daganganya pada pasangan yang lagi makan itu. Ditunjukkanlah berbagai judul novel seperti tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, hingga Maryamah Karpovnya Andrea Hirata, Ketika Cinta Bertasbih, novel2 terjemahan, kamus2 bahasa asing maupun Alquran.
Si perempuan melihat novel Edensor.
"berapa harganya pak," tanyanya.
"Lima pulu (ribu)," ujar sipenjual buku.
Perempuan itu langsung menawar dengan harga yang sangat mengejutkanku. "20 ribu deh," katanya.
"gak bisa mbak. belum dapat," kata si penjual buku.
keduanya diam,. si penjual seperti mikir2 kemudian bilang " kurang dikit ya? saya cuma dapat 10 persen." kemudian disambung," 45 ya?."
"dua puluh," ucap perempuan itu tanpa ekspresi.
"Belum dapat," ujar bapak itu lagi.
sambil menyantap semangkok kecil soto kudus dengan cemilan telur puyuh pindang aku memperhatikan tawar-menawar tersebut. hatiku sempat bergejolak juga melihat perempuan itu begitu rendahnya menawar sebuah buku best seller di tanah air. "hanya 20 ribu,?" tanyaku dalam hati sambil memandang tajam ke perempuan itu seperti hendak mengatakan "tega amat sih."
Si penjual buku yang ternyata orang Jawa-- begitu juga perempuan itu juga dari Jawa (Jawa Tengah maksudnya)-- kemudian menurunkan harga bukunya menjadi Rp35 ribu, tapi si perempuan tetap pada pendiriannya Rp20 ribu.
"ya udah 25 ribu ya mbak," kata penjual buku itu dengan mimik memelas berharap calon pembelinya mau menaikkan tawarannya. "sebagai penglaris" sambungnya.
Lagi-lagi perempuan itu bergeming pada tawarannya Rp20 ribu. pikir punya pikir akhirnya penjual buku mengalah dan melepas Edensor Rp20 ribu sementara di toko Rp50 ribu.
Fantastis, pikirku. Aku pingin marah pada perempuan itu, karena dia menghargai karya sastra begitu rendah tapi sekaligus kagum juga dengan kemampuannya menawar. setelah menerima pembayaran dari perempuan itu penjual buku beralih kepadaku untuk menawarkan dagangannya. aku penasaran dan akhirnya membeli dua buku Sang Pemimpi dan Ketika Cinta Bertasbih 1 dengan harga Rp25 ribu dan Rp30 ribu masing-masing dapat potongan 50 persen dari harga yang tertera. Aku tak tega untuk menawar lebih rendah lagi.
Sesampai di kantor aku buka kedua buku tersebut dari plastik pembungkusnya. aku yang tadi ingin marah pada perempuan itu kini beralih kemarahanku pada si penjual buku......pantas saja buku-buku yang dijual hasil bajakan!! dia pantas menerima tawaran yang paling rendah karena ikut menjual barang hasil "curian"!!!.
Selasa, 06 Januari 2009
my N9500

aq ga tau apa yang terjadi dgnku, dari pagi kepalaku dah pusing aja, jantung berdegup terus, rasanya ga enak banget. Liputan ke Bappenas, sempet dikirimin transkrip lewat bluetooth ama angak Kontan ke komunikator...jam 1 liputan ke DKP. semua berjalan lancar. di saat penjelasan dari para narasumber di depan aku nglurain komunikator, yah lihat2, ga sadar aku taruh di meja. selesei acara buru2 doorstop ma para narasumber. kayaknya dah cukup deh untuk dpat berita banyak. Ke pressroom DKP ma temen2 ngobrol2 sekitar 20 menit.....oh my god! aku tersadar, komunikatorku tertinggal. aku segera kontak no komunikatorku dah ga aktif, padahal aku gak pernah matiin hp even tidur malam.
Balik lagi ke Lt 14 gedung belakang--liftnya lama lagi--ruangan dah dikunci ga da siapa2, cari yang bawa kunci, hampir 30 menit baru ketemu, akhirnya ruangan bisa dibuka....tapi...my 9500 has gone! siapapun yang nemuin aku harap mau balikin just memori cardnya aja gpp itu yang sngat penting!
Sabtu, 03 Januari 2009
KADO ISTIMEWA DI AKHIR TAHUN

Untuk kesekian kalinya Rere kembali mengambil handphone yang dari tadi hanya tergeletak di meja kecil di samping ranjang tempat dirinya merebahkan badan. "Aahh....." desisnya kecil sembari meletakkan kembali HP yang tak pernah dimatikannya itu.
Rasa kecewa terlihat di wajah anak itu, namun dia berusaha untuk tidak kecewa. "Mungkin besok pagi," pikirnya. Yah Rere sedang menunggu sebuah SMS dari orang yang dicintainya. SMS yang memberikan ucapan selamat karena hari ini usianya bertambah lagi satu tahun.
Setiap jam 00.00 memasuki tanggal 23 biasanya kekasihnya yang memang tinggal berlainan kota dengannya tak pernah kelewatan memberikan ucapan selamat ulang tahun melalui SMS bahkan langsung ditelpon.
Tak jarang kekasihnya ngerjain dirinya dengan mematikan HP seharian sehingga membuatnya kelimpungan karena tak ada kabar dari dia, sementara dihubungi juga tidak bisa. Namun malam harinya langsung dia mendapatkan kejutan menerima telpon yang ditunggu-tunggunya.
Bahkan dia masih ingat pada tahun lalu kekasihnya bener-bener membuat kejutan, karena setelah tidak ada kabar tiba-tiba muncul di kampusnya persis di depan pintu kelas saat dirinya masih mengikuti kuliah, sambil melambaikan tangan untuknya.
"Jam dua," bisiknya lirih. Tak ada tanda-tanda kekasihnya akan mengirimkan SMS untuk dirinya. Regita memejamkan mata untuk kemudian membiarkan dirinya melayang ke alam mimpi.
Keesokan harinya seperti biasa secara spontan dia melongok kembali layar telpon genggamnya, namun tetap seperti semalam, kosong. Tak ada satupun SMS dari sang kekasih. Ini hari sabtu dan dia tahu kebiasaan pacarnya yang sering bangun siang pada hari libur.
Regita segera melalui aktivitas hari sabtunya untuk ke kampus, dia tetap masuk karena ada kuliah tambahan dari dosen bahasa Inggris. Tepat jam 10.00 HPnya berbunyi,"akhirnya"...bisiknya sumringah membaca pengirim SMS adalah Ryan kekasihnya.
"Pagi sayang....dah bangun ya. Dah makan belum?". ternyata SMS seperti hari-hari biasa. rasa kecewa sedikit menggelayuti wajahnya. Rere bertanya dalam hati kenapa kekasihnya tidak mengirimkan ucapan selamat. apakah dia lupa atau sengaja mau bikin kejutan.
Dia ingin menanyakan itu ke pacarnya namun hatinya mengatakan biarkan dulu, masih ada waktu hingga nanti malam. Belum terlambat kok. Akhirnya setelah membalas SMS Ryan, Rere kembali pada aktivitasnya.
Tak terasa hari sudah akan berganti, special day untuk Rere tinggal 5 menit lagi namun lagi-lagi belum ada satupun ucapan selamat dari kekasihnya. Hanya SMS-SMS biasa seperti yang selalu dia terima setiap hari. Dia mengambil sikap untuk tidak mempertanyakan itu dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya meskipun rasa kecewa sempat menggelayuti hatinya.
Dua hari sudah berlalu dari tanggal 23 dan tak ada satupun ucapan selamat dari kekasihnya. Rere tak akan mempertanyakan itu, kalaupun kekasihnya ingat dan kemudian mengucapkan selamat biarkan saja itu terjadi tanpa dia ingatkan. Kalaupun dia lupa Rere akan menerimanya.
"Bip....bip....bip". Sebuah sms masuk dan segera dia membacanya. "Apa kabar?" isi SMS dari nomer yang tidak terlalu dihapalnya namun dia sedikit ingat si pengirim pernah dikenalnya. Yah, teryata dari Irma, teman sebangku di kereta ketika hendak sama-sama ke Jakarta dari Bandung tujuh bulan lalu. Setelah berbasa-basi dengan menanyakan kabar dan sebagainya, Irma yang selama ini tak pernah mengirim kabar ataupun sekedar SMS ke dia tiba-tiba bertanya, "Kamu kenal Ryan,?".
"Ryan mana? Banyak nama Ryan yang aku kenal" jawab Rere singkat. "Ryan Bandung," jawab Irma melalui SMSnya.
Rere terhenyak sebentar, dia mencoba berpikir apakah Ryan yang dimaksud adalah kekasihnya. Kalau memang dia, apa maksudnya Irma bertanya itu. "Ryan mana. Di Bandung kan banyak nama Ryan" tanyanya meyakinkan. "Ryan yang di FSnya 'sang pangeran' itu." kembali sebuah SMS meluncur dari Irma.
Rere semakin terheran, darimana Irma tahu dia kenal Ryan dan kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu.
"Kamu kenal Ryan kan?" belum sempat Rere membalas SMS dari Irma sebelumnya kini sudah muncul SMS susulan."Seberapa jauh kamu kenal dia?" sambungnya lagi.
"Aku mengenal dia seperti kamu kenal dirinya," jawab Rere asal. Regita memang tidak suka ditanya tentang kehidupan pribadinya apalagi oleh orang yang tidak terlalu akrabnya.
"Jadi kamu mantannya Ryan?," SMS Irma beruntun bagaikan peluru yang ditembakan seorang prajurit di medan perang.
"Blaaarr.....,"rasa kaget menyeruak dalam pikiran Regita. Apa maksud Irma bilang seperti itu? Dia tergagap dengan pertanyaan itu. "Mantan?" bisiknya ternganga.
Rere sendiri heran, darimana Irma tahu hubungan dia dengan Ryan, tapi kenapa dia menyebut rere sebagai mantan Ryan? keduanya tidak pernah berkomunikasi meskipun saling kenal, toh karena kenal hanya sambil lalu di kereta. Apalagi sampai menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang yang tak terlalu akrab dengan dirinya.
Rasa penasaran dan gelisah bercampur aduk dalam dada Rere. Rasa keingintahuannya mendadak menyeruak dan dia ingin kejelasan dari apa yang didengarnya baru saja. Tak puas dengan SMS Regita langsung calling Irma. "Darimana kamu tahu aku ada hubungan sama Ryan?" tanya Rere menyelidik.
"Dari testi yang dia kirim ke kamu, ucapan-ucapan yang dia berikan untuk kamu," jawaban pendek terucap dari mulut Irma.
"Testi yang dia kirim ke aku sepertinya biasa saja dan ga ada yang istimewa. Ucapan-ucapan itu juga dia kirimkan ke temen-temen FS lainnya," kata Rere memotong.
"Oke lah kalau aku salah orang sorry. Tapi aku cuma ingin memastikan bahwa kamu memang benar mantannya dia seperti yang dia ceritakan ke aku," kata Irma menimpali.
Rere bagaikan tertimpa runtuhan batu dari pegunungan. Apa yang diceritakan Ryan ke Irma? Jadi kekasihnya cerita ke Irma kalau dirinya adalah mantan Ryan?
Namun dia mencoba tak terpengaruh dengan apa yang didengarnya. Dia merasa mengenal Ryan begitu dalam. Dia tahu seperti apa sosok lelaki yang sudah empat tahun menjadi kekasihnya itu.
Ya Rere dan Ryan sudah menjalani pacaran sejak mereka kelas satu SMA hingga saat ini sudah berjalan empat tahun lebih. Selama itu pula dia tahu Ryan adalah sosok pria yang setia tak pernah mau berhubungan dengan yang lain bahkan sekedar untuk berteman saja. Ryan selalu beralasan menjalin pertemenan dengan orang lain bisa menjadi pintu untuk menuju perselingkuhan.
Dia juga tahu kekasihnya adalah anak rumahan yang tak pernah jalan-jalan dengan yang lain kecuali dengan temen-temen sekolah atau kuliahnya. Namun kini seolah-olah dia menjadi tidak mengenal sama sekali Ryan kekasihnya. Lelaki yang masih senang di manja itu tiba-tiba seperti menjadi asing baginya.
"Dia cerita kalau kalian pacaran saat SMA. Kamu adalah pacar pertamanya. Kamu adalah pacarnya saat di SMA. Kamu adalah mantannya," kata Irma.
"Oh ya?" ucap Rere lirih dengan bibir bergetar.
"Dia cerita, kalian pernah berantem di SJ Plaza. Bener kan,?" sambung irma lagi.
Apa yang diceritakan Irma tentang dia dengan kekasihnya ternyata benar semua, bahkan Rere tak menyangka kalao Ryan tega menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya kepada orang yang tak dikenalnya.
"Lalu ada hubungan apa kamu dengan Ryan?" tanya Rere dengan nada cemas.
"Aku memang seperti kamu. Aku juga mantannya Ryan." Irma menjawab singkat. "Aku pacaran dengan Ryan hanya tiga bulan, April sampai Agustus. Setiap hari kami selalu bertemu karena aku satu kampus dengan dia," ungkapnya panjang lebar. "Tapi aku tak tahu kenapa dia tiba-tiba mutusin aku." terbersit nada marah sekaligus sedih dari ucapan Irma.
"Jadi.....jadi....selama ini?" Rere terkesiap mendengar pengakuan Irma. Seribu pedang bagai menusuk jantungya, seribu godam bagai meremuk kepalanya, pandangannya berkunang-kunang. Tak kuasa menyangga badannya Rere limbung masih menggenggam telepon genggam di tangannya. "Hallo....hallo...." suara Irma dari seberang.
Pukul 06.00 pagi ponsel Rere bunyi. Matanya yang masih ngantuk membuatnya enggan untuk bangun namun dia segera ambil HP itu untuk ngelihat isi SMS. Tak terasa sudah semalaman dia tertidur.
Gambar seekor kelinci gendut membawa seikat mawar dengan taburan jantung hati meluncur ke HPnya. Di bawahnya tertulis "Kado Istimewa Untuk Kekasihku: Your love-Ryan".
Disusul SMS yang lain......"Hai sayang, met ulang tahun ya, semoga semua keinginanmu bisa terwujud dan mendapatkan semua yang terbaik untukmu. Meskipun telat namun doaku tulus, untukmu orang yang paling aku cintai." Sebulir air bening menetes dari pelupuk mata bulat Regita. Entah air mata keharuan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari kekasihnya atau air mata kesedihan justru di saat-saat istemawa untuknya dia mendapati sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Jumat, 02 Januari 2009
harapan 2009

2008 dah berlalu dan kini telah memasuki 2009, masih banyak rencana, keinginan, harapan, impian dan cita-cita yang belum terwujud hingga tahun lalu. Semua itu harus bisa diwujudkan pada tahun baru saat ini.
Karir:
sudah 10 tahun lebih kerja dibidang jurnalistik, tapi pengalaman perjalanan jurnalistik masih minim. bahkan dengan kondisi kantor yang seperti ini dunia jurnalistik ku tidak berkembang, tidak menemukan hal-hal baru sebaliknya terasa semakin sempit dan monoton. Kondisi ini harus dirubah. ada dua alternatif yang bisa dilakukan pada 2009 ini yakni dengan mencari perahu yang baru atau tetap di perahu lama namun berusaha mengembangkan diri sendiri.
Keuangan:
aku bersyukur hingga saat ini tak pernah mengalami persoalan yang berarti dengan keuangan. meskipun menurut perhitungan di jakarta gaji yang aku terima bisa dibilang pas-pasan tapi sampai saat ini tidak pernah sampai hutang sana-sini. Namun tak ada salahnya aku meningkatkan pendapatan, karena kebutuhan dan keinginan yang harus dicukupi pasti akan meningkat pula nantinya. pilihan yang bisa dilakukan pada 2009 yakni cari kerjaan sampingan yang ga ganggu kerjaan utama, nulis buku, instruktur jurnalistik or wirausaha (belum ketemu mo garap apa).
Kehidupan:
sampai saat ini (dah mo kepala 4) masih ngejomblo....yah, urusan yang satu ini emang gampang-gampang susah. Belum ada planning khusus pada tahun ini, masih tetap ingin ngejalanin hidup ini seperti kata hati. Sampai saat ini juga masih numpang sodara--dah 10 tahun lebih--rasanya kehilangan jatidiri n kesempatan diri untuk berkembang. Jika ingin mandiri n memiliki kebebasan mesti memiliki tempat tinggal sendiri, setidaknya triwulan I 2009 aku harus sudah mempunyainya.
Karya:
tahun kemarin pengin buat buku ini, buku itu tapi belum terlaksana juga. Pengin kirim artikel2/naskah cerita ke media massa namun tersendat-sendat mulu. Pengin kursus bahasa asing namun waktu sepertinya habis untuk kerjaan saja, padahal sepertinya sangat dibutuhkan penguasaan bahasa asing lain selain bahasa inggris. Tahun 2009 mesti diwujudkan semua itu. mesti ada paling tidak satu buku yang lahir pada tahun ini ikut kursus bahasa asing n nulis artikel untuk media massa.
Kesenangan:
dah lama (sejak masa sekolah) pengen punya biola n bisa mainkan alat musik ini, belum terwujud juga. sebelum pertengahan 2009 harus sudah punya. tak hanya punya dan bisa main biola, tapi hobi yang lain pun harus dikembangkan pada tahun ini. siapa tahu dari hobi jadi hoki:)
Karir:
sudah 10 tahun lebih kerja dibidang jurnalistik, tapi pengalaman perjalanan jurnalistik masih minim. bahkan dengan kondisi kantor yang seperti ini dunia jurnalistik ku tidak berkembang, tidak menemukan hal-hal baru sebaliknya terasa semakin sempit dan monoton. Kondisi ini harus dirubah. ada dua alternatif yang bisa dilakukan pada 2009 ini yakni dengan mencari perahu yang baru atau tetap di perahu lama namun berusaha mengembangkan diri sendiri.
Keuangan:
aku bersyukur hingga saat ini tak pernah mengalami persoalan yang berarti dengan keuangan. meskipun menurut perhitungan di jakarta gaji yang aku terima bisa dibilang pas-pasan tapi sampai saat ini tidak pernah sampai hutang sana-sini. Namun tak ada salahnya aku meningkatkan pendapatan, karena kebutuhan dan keinginan yang harus dicukupi pasti akan meningkat pula nantinya. pilihan yang bisa dilakukan pada 2009 yakni cari kerjaan sampingan yang ga ganggu kerjaan utama, nulis buku, instruktur jurnalistik or wirausaha (belum ketemu mo garap apa).
Kehidupan:
sampai saat ini (dah mo kepala 4) masih ngejomblo....yah, urusan yang satu ini emang gampang-gampang susah. Belum ada planning khusus pada tahun ini, masih tetap ingin ngejalanin hidup ini seperti kata hati. Sampai saat ini juga masih numpang sodara--dah 10 tahun lebih--rasanya kehilangan jatidiri n kesempatan diri untuk berkembang. Jika ingin mandiri n memiliki kebebasan mesti memiliki tempat tinggal sendiri, setidaknya triwulan I 2009 aku harus sudah mempunyainya.
Karya:
tahun kemarin pengin buat buku ini, buku itu tapi belum terlaksana juga. Pengin kirim artikel2/naskah cerita ke media massa namun tersendat-sendat mulu. Pengin kursus bahasa asing namun waktu sepertinya habis untuk kerjaan saja, padahal sepertinya sangat dibutuhkan penguasaan bahasa asing lain selain bahasa inggris. Tahun 2009 mesti diwujudkan semua itu. mesti ada paling tidak satu buku yang lahir pada tahun ini ikut kursus bahasa asing n nulis artikel untuk media massa.
Kesenangan:
dah lama (sejak masa sekolah) pengen punya biola n bisa mainkan alat musik ini, belum terwujud juga. sebelum pertengahan 2009 harus sudah punya. tak hanya punya dan bisa main biola, tapi hobi yang lain pun harus dikembangkan pada tahun ini. siapa tahu dari hobi jadi hoki:)
Langganan:
Komentar (Atom)
