Semalam jam 23.00 baru keluar dari kantor untuk pulang, badan penat n cape pengin buru-buru sampe rumah. Shogun hitam yang selama ini menemani kemanapun ku jalan langsung meluncur menyusuri rute kantor-rumah. Keadaan jalan yang tak begitu ramai--iya lah dah malem gitu lho--membuatku bebas memacu motorku, sembari menikmati sejuknya angin malam ibukota. Baru sampe perempatan Kiapang, Petamburan, Tanah Abang ada razia polisi deh...biasanya malem minggu lho kok tumben Senin malam sih!
Merasa tak ada masalah (helm pake, surat-surat lengkap) tenang aja aku berusaha melewati petugas-petugas berbaju coklat yang berdiri dipinggir jalan sambil menghentikan kendaraan yang lewat (n dicurigai kali). Tiba-tiba...ups, seorang polisi (muda) menghentikan laju motorku...
"bisa tunjukkan surat-surat, pak". itulah kalimat yang biasa diucapkan polisi kalo lagi nyetop mangsanya.
dengan tenang aku meraba-raba dalam tas ku. semenit, dua menit, lima menit.....lho dompetku mana? waduh kena nih, pikirku (maksudku bakal kena jatah setor deh).
"gak ada surat-suratnya pak? kalao gitu saya tilang" kata petugas yang berumur sekitar 30 an tahun itu sambil mencabut kontak motorku secara spontan.
"Bentar dong pak," akupun tetap mencoba-coba mengais-ngais tasku, hingga 10 menit lebih tak kudapatkan juga dompet n sgala isinya--stnk, sim, duit....
"Ya udah bapak saya tilang motor ditinggal saja, bisa diambil tiga minggu lagi", kata polisi itu penuh kemenangan.
Waduh repot juga kalao aku harus berpisah dari my first shogun itu. Aku seperti orang terpojok. Mengetahui kondisi itu kontan sang polisi menyahut, "Bapak mau dibantu?" (biar gak ditilang gitu maksudnya)......selanjutnya, tahu sendiri deh, terpaksa melayang penghasilanku hari itu hanya untuk STNK ketinggalan di rumah. aku hanya bisa bersungut sambil melajukan motor setelah sang polisi menyerahkan motor plus kuncinya .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar