Rabu, 09 Juni 2010

kotak pandora

Saat mengambil keputusan ini aku berharap bisa menyelesaikan salah satu persoalan yang aku hadapi selama ini, yakni keinginan untuk hidup mandiri dan tidak lagi menumpang di tempat famili, namun kenyataan yang terjadi justru masalah baru yang lebih rumit dan selama ini aku hindari telah siap menghadang di depanku.
Yah...sudah 12 tahun aku hidup di Jakarta, namun hingga saat ini aku masih menyandang status "penumpang" alias nebeng tinggal di rumah saudara. Tak perlu diceritakan disini tidak enaknya tinggal menumpang, sekalipun itu famili sendiri. Intinya lebih enak tinggal secara mandiri. Namun aku sendiri ntah mengapa bisa juga numpang tingal bertahun-tahun.
Mungkin karena desakan keadaan atau sudah tidak enak sendiri, aku mencoba untuk mencari rumah agar tidak lagi menyandang gelar "penumpang" dan yang jelas aku juga ingin menikmati kehidupan secara mandiri tanpa ada "gangguan" di sana-sini.
Akhirnya sebuah "rumah" aku dapatkan. Mestinya aku gembira sudah mendapatkan apa yang aku cari. Impian dan keinginan untuk bisa melepaskan penat setelah pulang kerja di istana sendiri mengiang-ngiang di pikiran.
Bayangan setiap hari libur bisa bermalas-malasan tanpa merasa sungkan dan gerah hati sudah mendesak-desak di dalam kepala. Semangat untuk menghasilkan karya dari tempat kerja sendiri sudah meledak-ledak.
Namun tiba-tiba aku merasa sudah terlalu lelah sebelum, impian, bayangan dan semangat itu terkalahkan oleh keruwetan yang seakan sudah membayang di depan mata. Entah karena aku salah melangkah atau karena terburu-buru memutuskan, bukan sebuah "istana" yang siap mengantarkanku menjadi "raja" namun sebuah "gudang" yang seperti kotak pandora, jika dibuka siap memunculkan segala macam makhluk mengerikan maupun monster yang siap memangsa.
Saat ini aku seperti dalam posisi masuk lumpur, jika mundur tubuhku sudah terlanjur terkena lumpur (yg pasti tidak bisa mundur lagi) namun untuk maju sampai tempat tujuan akupun harus siap masuk ke lumpur yang lebih dalam lagi, yang jika tidak hati2 justru akan menghisapku dan menyeretku tenggelam.
Tetapi meratap dan menunggu dalam ketakutan untuk melangkah bukanlah sebuah tindakan yang benar juga. Mau tidak mau aku mesti menerjang semua masalah yang siap menghadang di depan, karena di depan sana juga sudah siap menyongsong fajar baru. Indahnya mentari pagi hanya bisa dinikmati setelah kita berhasil melewati malam yang mencekam.