Minggu, 28 Februari 2010

Numpang

Beberapa hari terakhir aku merasakan betapa tidak enaknya sebagai seorang yang numpang alias ngikut tinggal di rumah orang lain. sebenarnya sudah sejak lama perasaan tidak enak dan tersiksa itu sudah aku rasakan, namun dalam sebulan ini sepertinya sudah mencapai puncaknya.

Yah... sudah 10 tahun lebih--sejak aku kerja di jakarta--memang aku hanya numpang pada salah satu famili. sebenarnya pada awal ikut tinggal bareng dulunya suasananya nyaman karena seperti kos-kosan dan penuh persaudaraan. Sebagai pegawai negeri yang memiliki jabatan, dia mendapatkan rumah dinas sementara istrinya tinggal di daerah, karena bekerja sebagai guru. mungkin daripada sendirian, akhirnya rumah dinas itu juga ditempati oleh tetangga2 dari kampung yang kerja di jkarta ataupun ponakan2nya, termasuk aku. Akhirnya jadilah di situ rumah "bujangan" karena rata-rata isteri mereka tetap tinggal di kampung, ataupun bener-bener masih lajang yang tinggal di situ.

Seiring perjalanan waktu, satu demi satu penghuni meninggalkan rumah itu, karena sudah menikah atau pindah kerja. Isteri pemilik rumah pun kini tinggal di situ ditambah lagi dengan anak dan menantunya. Suasana yang dulu penuh persaudaraan dan kita seperti sederajat kini berubah total. Menumpang, itulah yang aku rasakan. Karena sebagai seorang yang hanya numpang alias nebeng atau ikut, dengan sendirinya aku bener-bener harus menjadi seorang "pengikut" yang harus menurut dan menyenangkan orang yang aku ikuti. Jatidiri dan kebebasanku pun harus aku kubur dalam-dalam agar aku bisa berlaku dan bersikap tidak mengecewakan orang yang aku tumpangi. Tiba-tiba aku menjadi seperti bukan diriku sendiri.....bahkan tak tahu siapa diriku sendiri.Harga yang kubayarkan untuk mendapatkan kamar secara cuma-cuma ternyata lebih mahal. Aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam diriku yang tak mampu ku kembangkan. Bahkan harga dirikupun turut hilang.

Puncak ketidaknyamanan itu terasa benar beberapa hari ini.....dan aku telah memutuskan untuk mandiri. Aku tak mau lagi menukar kebebasan dan jatidiriku dengan sepetak kamar kecil. Bunga-bunga dalam diriku yang selama ini tak bisa mekar harus aku kembalikan untuk tumbuh bersemi dan menjadi kembang warna-warni.....

Tidak ada komentar: