Selasa, 30 November 2010
kenangan november
november sudah berakhir, bulan ke 11 ini mengingatkan banyak kejadian yang aku alami......
Sabtu, 31 Juli 2010
khalil
seorang buruh tani yang bersahaja, hatinya dipenuhi rasa ingin menolong orang lain, namun nasibnya tragis justru ketika tengah memberikan pertolongan pada tetangganya....
Jumat, 30 Juli 2010
Rabu, 30 Juni 2010
tengah tahun
pertengahan tahun sudah terlewati, waktu merambat begitu cepat dan dalam kepastian segera mencapai penghujung. Besuk memasuki semester II tahun ini, saatnya mengevaluasi kembali perjalanan yang sudah dilalui enam bulan ini. Sepertinya target-target yang disusun pada awal tahun banyak yang belum terwujud, sementara waktu semakin tak mau diajak kompromi.
Selasa, 22 Juni 2010
starting point
peristiwa demi peristiwa kurang menyenangkan silih berganti mendera diriku. meskipun hidup tak selamanya memang indah, namun sejumlah moment kelabu sempat membuat diri seperti terpuruk terlempar jauh ke dasar bumi. namun terus menerus meratapi kegagalan bahkan menguras air mata kesedihan tak kan membawa diri keluar dari persoalan, bisa jadi menambah masalah baru.
kini yang harus dilakukan adalah mencari celah yang masih tersisa untuk mendapatkan cahaya kehangatan dari luar. peluang masih banyak terbentang di luar sana. hanya perjuangan, sabar dan kerja keras lah yang bisa mengantarkan diri meraih impian dan cita-cita.
kekecewaan hari ini dan masa lalu, bukan menjadi halangan untuk meraih hari depan. Saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai langkah baru, kembali ke titik non untuk mengawali perjuangan. Let's go and do it now, you will get what you never think before.....
kini yang harus dilakukan adalah mencari celah yang masih tersisa untuk mendapatkan cahaya kehangatan dari luar. peluang masih banyak terbentang di luar sana. hanya perjuangan, sabar dan kerja keras lah yang bisa mengantarkan diri meraih impian dan cita-cita.
kekecewaan hari ini dan masa lalu, bukan menjadi halangan untuk meraih hari depan. Saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai langkah baru, kembali ke titik non untuk mengawali perjuangan. Let's go and do it now, you will get what you never think before.....
Kamis, 10 Juni 2010
rolling
"rolling", sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya menggelinding. Kosa kata ini cukup akrab dalam dunia kerja. rolling diartikan pindah (seperti benda yang menggelinding kali). di rolling tentu saja dipindah tugasnya, bagiannya ataupun bisa jadi posisinya. selain rolling, pindah tugas biasanya juga dikenal dengan mutasi.
Jika mutasi biasanya lebih banyak dikenal di lingkup militer ataupun birokrasi, namun rolling lebih sering digunakan dalam dunia pers, media ataupun jurnalistik. Rolling ini sering ditujukan pada wartawan yang dipindah desk/redaksinya. Misalnya dari redaksi ekonomi dia dirolling ke redaksi hukum ataupun liputannya dari bidang seni dirolling ke olah raga.
Rolling bagi sebagian orang (baca: wartawan) bisa jadi merupakan hal yang biasa-biasa saja, karena memang itu hal biasa dalam dunia jurnalistik. Atau bisa jadi merupakan hal yang menyenangkan karena bisa memperoleh dunia baru, suasana liputan yang berbeda, teman dan jaringan yang lebih luas.
Namun sebaliknya ada juga sebagian orang menyikapinya sebagai sebuah kekuatiran. dirolling artinya harus kehilangan teman-teman atau jaringan yang telah terbentuk selama ini, mendapatkan tugas baru yang harus belajar dari nol, beradaptasi dengan lingkungan baru yang belum tentu mengenakkan, liputan yang bisa jadi tidak sesuai dengan minat dan bakatnya dan segala macam hal lainnya.
Orang-orang semacam ini akan (sebisa mungkin) menghindari rolling bahkan jika mungkin menolaknya dan berusaha membatalkannya. Memang diakui ada tempat-tempat atau bidang tertentu yang menjadikan seseorang betah di dalamnya dan enggan untuk dipindahkan, alasannya apalagi kalau bukan karena "basahnya" tempat itu. Orang-orang tertentu akan bersikukuh untuk tetap menempati posisi/desk di situ. Kalaupun dia sudah dirolling ke bidang lain maka dengan jaringan yang telah dibentuknya selama ini dia tetap 'bergerilya" di pos nya yang lama.
Bagaimana akan menjadi seorang yang tangguh dan memiliki pengalaman luas jika diberikan dunia baru saja gamang. Bagaimana akan menjadi journalis handal jika gelisah menghadapi medan yang baru. Ahh...........batu saja harus menggelinding dari puncak gunung jika ingin sampai ke laut.
Jika mutasi biasanya lebih banyak dikenal di lingkup militer ataupun birokrasi, namun rolling lebih sering digunakan dalam dunia pers, media ataupun jurnalistik. Rolling ini sering ditujukan pada wartawan yang dipindah desk/redaksinya. Misalnya dari redaksi ekonomi dia dirolling ke redaksi hukum ataupun liputannya dari bidang seni dirolling ke olah raga.
Rolling bagi sebagian orang (baca: wartawan) bisa jadi merupakan hal yang biasa-biasa saja, karena memang itu hal biasa dalam dunia jurnalistik. Atau bisa jadi merupakan hal yang menyenangkan karena bisa memperoleh dunia baru, suasana liputan yang berbeda, teman dan jaringan yang lebih luas.
Namun sebaliknya ada juga sebagian orang menyikapinya sebagai sebuah kekuatiran. dirolling artinya harus kehilangan teman-teman atau jaringan yang telah terbentuk selama ini, mendapatkan tugas baru yang harus belajar dari nol, beradaptasi dengan lingkungan baru yang belum tentu mengenakkan, liputan yang bisa jadi tidak sesuai dengan minat dan bakatnya dan segala macam hal lainnya.
Orang-orang semacam ini akan (sebisa mungkin) menghindari rolling bahkan jika mungkin menolaknya dan berusaha membatalkannya. Memang diakui ada tempat-tempat atau bidang tertentu yang menjadikan seseorang betah di dalamnya dan enggan untuk dipindahkan, alasannya apalagi kalau bukan karena "basahnya" tempat itu. Orang-orang tertentu akan bersikukuh untuk tetap menempati posisi/desk di situ. Kalaupun dia sudah dirolling ke bidang lain maka dengan jaringan yang telah dibentuknya selama ini dia tetap 'bergerilya" di pos nya yang lama.
Bagaimana akan menjadi seorang yang tangguh dan memiliki pengalaman luas jika diberikan dunia baru saja gamang. Bagaimana akan menjadi journalis handal jika gelisah menghadapi medan yang baru. Ahh...........batu saja harus menggelinding dari puncak gunung jika ingin sampai ke laut.
Rabu, 09 Juni 2010
kotak pandora
Saat mengambil keputusan ini aku berharap bisa menyelesaikan salah satu persoalan yang aku hadapi selama ini, yakni keinginan untuk hidup mandiri dan tidak lagi menumpang di tempat famili, namun kenyataan yang terjadi justru masalah baru yang lebih rumit dan selama ini aku hindari telah siap menghadang di depanku.Yah...sudah 12 tahun aku hidup di Jakarta, namun hingga saat ini aku masih menyandang status "penumpang" alias nebeng tinggal di rumah saudara. Tak perlu diceritakan disini tidak enaknya tinggal menumpang, sekalipun itu famili sendiri. Intinya lebih enak tinggal secara mandiri. Namun aku sendiri ntah mengapa bisa juga numpang tingal bertahun-tahun.
Mungkin karena desakan keadaan atau sudah tidak enak sendiri, aku mencoba untuk mencari rumah agar tidak lagi menyandang gelar "penumpang" dan yang jelas aku juga ingin menikmati kehidupan secara mandiri tanpa ada "gangguan" di sana-sini.
Akhirnya sebuah "rumah" aku dapatkan. Mestinya aku gembira sudah mendapatkan apa yang aku cari. Impian dan keinginan untuk bisa melepaskan penat setelah pulang kerja di istana sendiri mengiang-ngiang di pikiran.
Bayangan setiap hari libur bisa bermalas-malasan tanpa merasa sungkan dan gerah hati sudah mendesak-desak di dalam kepala. Semangat untuk menghasilkan karya dari tempat kerja sendiri sudah meledak-ledak.
Namun tiba-tiba aku merasa sudah terlalu lelah sebelum, impian, bayangan dan semangat itu terkalahkan oleh keruwetan yang seakan sudah membayang di depan mata. Entah karena aku salah melangkah atau karena terburu-buru memutuskan, bukan sebuah "istana" yang siap mengantarkanku menjadi "raja" namun sebuah "gudang" yang seperti kotak pandora, jika dibuka siap memunculkan segala macam makhluk mengerikan maupun monster yang siap memangsa.
Saat ini aku seperti dalam posisi masuk lumpur, jika mundur tubuhku sudah terlanjur terkena lumpur (yg pasti tidak bisa mundur lagi) namun untuk maju sampai tempat tujuan akupun harus siap masuk ke lumpur yang lebih dalam lagi, yang jika tidak hati2 justru akan menghisapku dan menyeretku tenggelam.
Tetapi meratap dan menunggu dalam ketakutan untuk melangkah bukanlah sebuah tindakan yang benar juga. Mau tidak mau aku mesti menerjang semua masalah yang siap menghadang di depan, karena di depan sana juga sudah siap menyongsong fajar baru. Indahnya mentari pagi hanya bisa dinikmati setelah kita berhasil melewati malam yang mencekam.
Kamis, 03 Juni 2010
berliku
jalan menuju impian itu
masih berliku dan jauh
namun harus tetap dilewati
dengan penuh perjuangan
dan kesabaran.....
masih berliku dan jauh
namun harus tetap dilewati
dengan penuh perjuangan
dan kesabaran.....
Kamis, 20 Mei 2010
bangkit
bangkit....
untuk apa menangisi masa lalu
merutuki penderitaan
menyesali kegagalan
menyalahkan diri
mungkin
memang menyenangkan
hidup dalam mimpi
namun apa artinya jika tak terjadi
memang lebih aman
tetap berpijak di pojokan
tapi apa artinya jika senantiasa terpinggirkan...
bangkit....!
untuk apa menangisi masa lalu
merutuki penderitaan
menyesali kegagalan
menyalahkan diri
mungkin
memang menyenangkan
hidup dalam mimpi
namun apa artinya jika tak terjadi
memang lebih aman
tetap berpijak di pojokan
tapi apa artinya jika senantiasa terpinggirkan...
bangkit....!
Selasa, 27 April 2010
last journey with parahyangan
Senja memerah di kota Bandung. 26 April 2010 tepat pukul 17.30 kereta api Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta meluncur meninggalkan stasiun. KA Parahyangan yang mengantarku dari Bandung menuju Jakarta bukan saja merupakan kereta terakhir untuk hari itu namun benar-benar menjadi kereta terakhir yang melayani perjalanan Bandung-Jakarta untuk selamanya.
Yah...., mulai 27 April 2010 KA Parahyangan yang telah menjadi andalan untuk mengantarkan warga yang hendak ke Bandung dari Jakarta ataupun ke Jakarta dari Bandung sejak 1971, harus menerima kenyataan untuk dihapuskan. Karena alasan merugi--sejak dibukanya tol Cipularang Jakarta-Bandung--hingga Rp36 miliar maka PT KA menghentikan operasi KA Parahyangan.
Lima tahun sudah aku menjadi salah satu pelanggan kereta api ini. Tentu saja karena tarif yang murah KA Parahyangan masih menjadi tumpuan bagi warga yang hendak bepergian ke Bandung ataupun ke Jakarta. Pada awal naik kereta ini sekitar 2004 tarif untuk kelas bisnis masih Rp20 ribu kemudian mengalami kenaikan menjadi Rp40 ribu dan setelah muncul persaingan dengan travel yang melintasi Tol Cipularang maka tarifnya kembali turun menjadi Rp30 ribu.
Hampir bisa dipastikan sebulan sekali aku menikmati perjalanan Jakarta-Bandung pp dengan menggunakan kereta ini. Tentu saja dengan segala kenyamanan maupun ketidaknyamanannya, namun aku tetap masih lebih memilih naik kereta karena masih bisa diperhitungkan ketika terjadi keterlambatan.
Kini Parahyangan tinggal nama, menjadi sejarah dan menambah deretan kereta api yang telah ditutup operasinya oleh pemerintah. Padahal kereta api merupakan andalah transportasi massa untuk masa depan. Pembukaan tol tak menjamin berkurangnya kemacetan bahkan ketika macet terjadi di jalan tol, Bandung-Jakarta bisa mencapai 4 jam, sementara dengan kereta tak mungkin terkena macet sehingga tetap bisa menempuh waktu 3 jam.
Kemarin menjadi perjalan terakhirku dengan Parahyangan, namun bukan menjadi akhir kenangan selama lima tahun ini dan akhir sebuah perjalanan kehidupan.........
Yah...., mulai 27 April 2010 KA Parahyangan yang telah menjadi andalan untuk mengantarkan warga yang hendak ke Bandung dari Jakarta ataupun ke Jakarta dari Bandung sejak 1971, harus menerima kenyataan untuk dihapuskan. Karena alasan merugi--sejak dibukanya tol Cipularang Jakarta-Bandung--hingga Rp36 miliar maka PT KA menghentikan operasi KA Parahyangan.
Lima tahun sudah aku menjadi salah satu pelanggan kereta api ini. Tentu saja karena tarif yang murah KA Parahyangan masih menjadi tumpuan bagi warga yang hendak bepergian ke Bandung ataupun ke Jakarta. Pada awal naik kereta ini sekitar 2004 tarif untuk kelas bisnis masih Rp20 ribu kemudian mengalami kenaikan menjadi Rp40 ribu dan setelah muncul persaingan dengan travel yang melintasi Tol Cipularang maka tarifnya kembali turun menjadi Rp30 ribu.
Hampir bisa dipastikan sebulan sekali aku menikmati perjalanan Jakarta-Bandung pp dengan menggunakan kereta ini. Tentu saja dengan segala kenyamanan maupun ketidaknyamanannya, namun aku tetap masih lebih memilih naik kereta karena masih bisa diperhitungkan ketika terjadi keterlambatan.
Kini Parahyangan tinggal nama, menjadi sejarah dan menambah deretan kereta api yang telah ditutup operasinya oleh pemerintah. Padahal kereta api merupakan andalah transportasi massa untuk masa depan. Pembukaan tol tak menjamin berkurangnya kemacetan bahkan ketika macet terjadi di jalan tol, Bandung-Jakarta bisa mencapai 4 jam, sementara dengan kereta tak mungkin terkena macet sehingga tetap bisa menempuh waktu 3 jam.
Kemarin menjadi perjalan terakhirku dengan Parahyangan, namun bukan menjadi akhir kenangan selama lima tahun ini dan akhir sebuah perjalanan kehidupan.........
Jumat, 09 April 2010
Resah
Sisa-sisa air hujan,
mengalir di punggung dedaunan,
ketika senja jatuh di pangkuan,
rasa ini semakin menggumpal dalam jiwa,
haruskah aku merutuki,
mencoba mencampakkannya,
karena duniapun enggan menerima,
ataukah...
tersenyum,
dan menggenggamnya,
karena ini adalah duniaku,
guratan ini kian mengeras.
tinggalkan ukiran,
di atas kalbu.....
cukupkah bulir-bulir bening,
di tengah malam,
menjadi tangga,
untukku menuju taman suci Mu....
mengalir di punggung dedaunan,
ketika senja jatuh di pangkuan,
rasa ini semakin menggumpal dalam jiwa,
haruskah aku merutuki,
mencoba mencampakkannya,
karena duniapun enggan menerima,
ataukah...
tersenyum,
dan menggenggamnya,
karena ini adalah duniaku,
guratan ini kian mengeras.
tinggalkan ukiran,
di atas kalbu.....
cukupkah bulir-bulir bening,
di tengah malam,
menjadi tangga,
untukku menuju taman suci Mu....
jujur dan berani
Beberapa temenku---sebenarnya cuma dua sih--hehehe--selalu menanyakan kok blog ku jarang pernah di update. mereka pengin selalu tahu perkembanganku melalui tulisan-tulisanku. pertanyaan dari temen2 tersebut sedikit banyak membuatku senang juga, ternyata tulisanku ada juga yang membaca, walau hanya temen sendiri dan dua orang. selama ini aku berpikir tulisan2ku di blog hanya merupakan "onani" aja karena tidak akan ada yang membacanya.
Menjawab pertanyaan kenapa blogku jarang di update aku sering mengatakan, males atau lagi tidak ada ide atau sedang ga mood. Itulah jawaban simpel dan tidak menggoda untuk memunculkan pertanyaan lain.
Namun ketika chating dengan seorang teman dia bilang, untuk menulis di blog diperlukan keberanian dan kejujuran untuk mengatakan apa yang dirasakan dan dialami. Ehhm.........benarkah aku kehilangan mood ataupun ide nulis di blog karena kehilangan kejujuran dan keberanian dalam diriku?
Harus aku akui, sebenarnya untuk ide, aku tak pernah kehilangan untuk dituliskan, bahkan di otak ini setiap saat bersliweran gagasan untuk dituang dalam tulisan. Tapi entahlah kekuatan untuk menjadikannya sebuah tulisan di blog tiba-tiba hilang manakala aku sudah di depan komputer. Ada bisikan dalam hati, "gak perlu kau posting ini di blog", "ini bukan untuk konsumsi umum"......yah...seperti itulah. Inikah yang dinamakan takut menyampaikan kejujuran? Malu dengan diri sendiri? Ketidakberanian mengungkapkan perasaan? entahlah.....!
Yang jelas ada banyak di dalam benak ini yang harus dikeluarkan..... ararrggghhhhhhhhhhhhh!
Menjawab pertanyaan kenapa blogku jarang di update aku sering mengatakan, males atau lagi tidak ada ide atau sedang ga mood. Itulah jawaban simpel dan tidak menggoda untuk memunculkan pertanyaan lain.
Namun ketika chating dengan seorang teman dia bilang, untuk menulis di blog diperlukan keberanian dan kejujuran untuk mengatakan apa yang dirasakan dan dialami. Ehhm.........benarkah aku kehilangan mood ataupun ide nulis di blog karena kehilangan kejujuran dan keberanian dalam diriku?
Harus aku akui, sebenarnya untuk ide, aku tak pernah kehilangan untuk dituliskan, bahkan di otak ini setiap saat bersliweran gagasan untuk dituang dalam tulisan. Tapi entahlah kekuatan untuk menjadikannya sebuah tulisan di blog tiba-tiba hilang manakala aku sudah di depan komputer. Ada bisikan dalam hati, "gak perlu kau posting ini di blog", "ini bukan untuk konsumsi umum"......yah...seperti itulah. Inikah yang dinamakan takut menyampaikan kejujuran? Malu dengan diri sendiri? Ketidakberanian mengungkapkan perasaan? entahlah.....!
Yang jelas ada banyak di dalam benak ini yang harus dikeluarkan..... ararrggghhhhhhhhhhhhh!
Selasa, 16 Maret 2010
PASAR LEGEN

Entah sejak kapan pasar ini ada, namun yang jelas pasar yang hanya muncul setiaP Legi--nama pasaran menurut penanggalan Jawa--itu selalu dipadati pengunjung dan tentu saja juga para penjualnya. Pasar yang lokasinya di Desa Bonyokan Kecamatan Jatinom Klaten ini, sebenarnya bukan merupakan pasar yang sesungguhnya, karena hanya mengambil tempat jalanan desa di pinggir lapangan bola. Barang-barang yang dijual sebagian besar merupakan barang-barang bekas seperti onderdil sepeda, sepeda motor dan mobil. Peralatan rumah tangga seperti tang, obeng, catut, palu hingga alat-alat pertukangan seperti sabit, cangkul, maupun ketam.
Barang-barang loakan, atau biasa disebut klithikan, inilah yang banyak dicari pembeli, yah umumnya para penggemar otomotif akan berburu onderdil yang asli namun murah. Tak hanya sebatas perkakas otomotif namun juga barang elektronika lain seperti televisi, radio ataupun tape recorder yang tentu saja sudah sangat jadul alias jaman dulu.
Meskipun barang-barang yang dijual umumnya barang bekas namun justru disinilah yang membuat pasar ini menjadi unik dan selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Sebenarnya pasar ini tak hanya menjadi sebuah tempat jual beli semata namun ajang berkumpul dan berinteraksinya penjual dan pembeli ataupun masyarakat dari berbagai kalangan dan tempat.
Di sinilah interaksi sosial antar warga terjadi dengan hangat dan cair, sehingga fungsi pasar sebagai tempat bersosialisasi benar-benar terasakan. 

Tak hanya menjual barang-barang loakan, di pasar ini juga menjadi tempat memperkenalkan mode pakaian terbaru. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan baju-baju yang dijual di mall ataupun butik-butik yang begitu mahal dan glamour, namun setidaknya baju-baju yang ada di pasar Legen ini bisa membuat para konsumen yang umumnya warga pedesaan bisa sedikit merasa tampil lebih fesyen dan tidak ketinggalan jaman.
Di pasar ini para komunitas penggemar sepeda onthel pun juga terwakili keberadaannya, karena di jual pula sepeda-sepeda onthel yang umurnya ada yang 30 tahun hingga 60 tahun, keluaran India hingga Belanda dan harganya Rp500 ribu hingga Rp5 jutaan.
Jika pemerintah ingin memberdayakan ekonomi rakyat, mungkin pasar-pasar seperti inilah yang perlu lebih banyak dikembangkan, bukan hanya mall-mall yang sudah jauh dari kehidupan sosial dan hanya merupakan penjara-penjara ekonomi.
Senin, 01 Maret 2010
keinginan..
"apa sih keinginanmu"?
pertanyaan itu meluncur dari seseorang ke dalam phonselku.
aku hanya menjawab pendek: "ingin menjadi petani di gunung, bisa menulis dan sesekali keliling menjelajah dunia....."
yah itulah keinginanku, yg bagi orang lain (sebagian) mungkin sebuah keinginan yang terlalu sederhana bahkan mungkin naif. di jaman yang semua dilihat berdasarkan materi sekarang ini bisa hampir semua orang menginginkan hidup kaya dengan rumah mewah lengkap dengan segala isinya yang serba wah dan tentu saja setumpuk mobil-mobil keluaran terbaru plus tentu saja uang melimpah ruah yang tak kan pernah ada habisnya untuk tujuh turunan.
apakah aku tolol jika tidak terlalu memikirkan untuk memiliki semua itu. aku hanya ingin tinggal di rumah mungil terbuat dari kayu namun hangat dan nyaman di kaki pegunungan yang masih berhawa sejuk.
apakah aku bodoh tidak terlalu peduli dengan jabatan yang selalu dikejar-kejar hampir semua orang karena menjanjikan kekuasaan dan kekayaan. aku hanya ingin menikmati hari-hariku dengan menjadi seorang pekerja untuk hatiku. berkarya untuk jiwaku. hanya menjadi petani kecil sederhana di kaki gunung yang jauh dari keramaian sembari membuat dongeng di sela-sela istirahat malamku......?
pertanyaan itu meluncur dari seseorang ke dalam phonselku.
aku hanya menjawab pendek: "ingin menjadi petani di gunung, bisa menulis dan sesekali keliling menjelajah dunia....."
yah itulah keinginanku, yg bagi orang lain (sebagian) mungkin sebuah keinginan yang terlalu sederhana bahkan mungkin naif. di jaman yang semua dilihat berdasarkan materi sekarang ini bisa hampir semua orang menginginkan hidup kaya dengan rumah mewah lengkap dengan segala isinya yang serba wah dan tentu saja setumpuk mobil-mobil keluaran terbaru plus tentu saja uang melimpah ruah yang tak kan pernah ada habisnya untuk tujuh turunan.
apakah aku tolol jika tidak terlalu memikirkan untuk memiliki semua itu. aku hanya ingin tinggal di rumah mungil terbuat dari kayu namun hangat dan nyaman di kaki pegunungan yang masih berhawa sejuk.
apakah aku bodoh tidak terlalu peduli dengan jabatan yang selalu dikejar-kejar hampir semua orang karena menjanjikan kekuasaan dan kekayaan. aku hanya ingin menikmati hari-hariku dengan menjadi seorang pekerja untuk hatiku. berkarya untuk jiwaku. hanya menjadi petani kecil sederhana di kaki gunung yang jauh dari keramaian sembari membuat dongeng di sela-sela istirahat malamku......?
Minggu, 28 Februari 2010
Numpang
Beberapa hari terakhir aku merasakan betapa tidak enaknya sebagai seorang yang numpang alias ngikut tinggal di rumah orang lain. sebenarnya sudah sejak lama perasaan tidak enak dan tersiksa itu sudah aku rasakan, namun dalam sebulan ini sepertinya sudah mencapai puncaknya.
Yah... sudah 10 tahun lebih--sejak aku kerja di jakarta--memang aku hanya numpang pada salah satu famili. sebenarnya pada awal ikut tinggal bareng dulunya suasananya nyaman karena seperti kos-kosan dan penuh persaudaraan. Sebagai pegawai negeri yang memiliki jabatan, dia mendapatkan rumah dinas sementara istrinya tinggal di daerah, karena bekerja sebagai guru. mungkin daripada sendirian, akhirnya rumah dinas itu juga ditempati oleh tetangga2 dari kampung yang kerja di jkarta ataupun ponakan2nya, termasuk aku. Akhirnya jadilah di situ rumah "bujangan" karena rata-rata isteri mereka tetap tinggal di kampung, ataupun bener-bener masih lajang yang tinggal di situ.
Seiring perjalanan waktu, satu demi satu penghuni meninggalkan rumah itu, karena sudah menikah atau pindah kerja. Isteri pemilik rumah pun kini tinggal di situ ditambah lagi dengan anak dan menantunya. Suasana yang dulu penuh persaudaraan dan kita seperti sederajat kini berubah total. Menumpang, itulah yang aku rasakan. Karena sebagai seorang yang hanya numpang alias nebeng atau ikut, dengan sendirinya aku bener-bener harus menjadi seorang "pengikut" yang harus menurut dan menyenangkan orang yang aku ikuti. Jatidiri dan kebebasanku pun harus aku kubur dalam-dalam agar aku bisa berlaku dan bersikap tidak mengecewakan orang yang aku tumpangi. Tiba-tiba aku menjadi seperti bukan diriku sendiri.....bahkan tak tahu siapa diriku sendiri.Harga yang kubayarkan untuk mendapatkan kamar secara cuma-cuma ternyata lebih mahal. Aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam diriku yang tak mampu ku kembangkan. Bahkan harga dirikupun turut hilang.
Puncak ketidaknyamanan itu terasa benar beberapa hari ini.....dan aku telah memutuskan untuk mandiri. Aku tak mau lagi menukar kebebasan dan jatidiriku dengan sepetak kamar kecil. Bunga-bunga dalam diriku yang selama ini tak bisa mekar harus aku kembalikan untuk tumbuh bersemi dan menjadi kembang warna-warni.....
Yah... sudah 10 tahun lebih--sejak aku kerja di jakarta--memang aku hanya numpang pada salah satu famili. sebenarnya pada awal ikut tinggal bareng dulunya suasananya nyaman karena seperti kos-kosan dan penuh persaudaraan. Sebagai pegawai negeri yang memiliki jabatan, dia mendapatkan rumah dinas sementara istrinya tinggal di daerah, karena bekerja sebagai guru. mungkin daripada sendirian, akhirnya rumah dinas itu juga ditempati oleh tetangga2 dari kampung yang kerja di jkarta ataupun ponakan2nya, termasuk aku. Akhirnya jadilah di situ rumah "bujangan" karena rata-rata isteri mereka tetap tinggal di kampung, ataupun bener-bener masih lajang yang tinggal di situ.
Seiring perjalanan waktu, satu demi satu penghuni meninggalkan rumah itu, karena sudah menikah atau pindah kerja. Isteri pemilik rumah pun kini tinggal di situ ditambah lagi dengan anak dan menantunya. Suasana yang dulu penuh persaudaraan dan kita seperti sederajat kini berubah total. Menumpang, itulah yang aku rasakan. Karena sebagai seorang yang hanya numpang alias nebeng atau ikut, dengan sendirinya aku bener-bener harus menjadi seorang "pengikut" yang harus menurut dan menyenangkan orang yang aku ikuti. Jatidiri dan kebebasanku pun harus aku kubur dalam-dalam agar aku bisa berlaku dan bersikap tidak mengecewakan orang yang aku tumpangi. Tiba-tiba aku menjadi seperti bukan diriku sendiri.....bahkan tak tahu siapa diriku sendiri.Harga yang kubayarkan untuk mendapatkan kamar secara cuma-cuma ternyata lebih mahal. Aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam diriku yang tak mampu ku kembangkan. Bahkan harga dirikupun turut hilang.
Puncak ketidaknyamanan itu terasa benar beberapa hari ini.....dan aku telah memutuskan untuk mandiri. Aku tak mau lagi menukar kebebasan dan jatidiriku dengan sepetak kamar kecil. Bunga-bunga dalam diriku yang selama ini tak bisa mekar harus aku kembalikan untuk tumbuh bersemi dan menjadi kembang warna-warni.....
Sabtu, 20 Februari 2010
berlari
setiap hari hanya berlari dan terus berlari
menghindar dari ketidakpastian diri
sampai kapan akan terus begini
sementara tiada tahu bila masa berhenti
kepalan tangan tiada lagi mampu menjebol dinding
hentakan kaki tiada lagi mampu menjejak bumi
hanya hati yang masih memiliki
keinginan lepas dari belenggu ini....
Minggu, 14 Februari 2010
valentine
Sabtu, 13 Februari 2010
Minggu, 31 Januari 2010
bogor
akhir januari
hari ini 31 januari, tepat 14 tahun usia ponakanku di klaten dan kebetulan hari lahirnya sama dengan bapaknya. 22 januari kemarin kakaknya juga genap berusia 19 tahun Karena kerjaan yang menumpuk di sini, aku belum sempat pulang kampung untuk menemui mereka, bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun.
Happy birthday to all of you.....
akhir-akhir ini sepertinya banyak sekali kegiatan yang menyita waktuku, hingga untuk sedikit menyempatkan waktu buat pribadi saja tidak ada rasanya. Walaupun sempat juga jalan-jalan namun karena bukan dari dalam diri sepertinya tetap tak menghilangkan beban yang menindih ini. entahlah sebenarnya memang karena banyak kerjaan atau memang beban pikiran ku yang bertumpuk sehingga untuk melakukan apapun rasanya enggan.
tak terasa satu bulan terlewati sudah di tahun 2010 ini......perjalanan harus diteruskan, waktu akan terus berputar sementara target terus menghadang di depan. Hanya ada dua pilihan terus berlari atau hancur tergilas roda kehidupan....
Happy birthday to all of you.....
akhir-akhir ini sepertinya banyak sekali kegiatan yang menyita waktuku, hingga untuk sedikit menyempatkan waktu buat pribadi saja tidak ada rasanya. Walaupun sempat juga jalan-jalan namun karena bukan dari dalam diri sepertinya tetap tak menghilangkan beban yang menindih ini. entahlah sebenarnya memang karena banyak kerjaan atau memang beban pikiran ku yang bertumpuk sehingga untuk melakukan apapun rasanya enggan.
tak terasa satu bulan terlewati sudah di tahun 2010 ini......perjalanan harus diteruskan, waktu akan terus berputar sementara target terus menghadang di depan. Hanya ada dua pilihan terus berlari atau hancur tergilas roda kehidupan....
Senin, 04 Januari 2010
Jumat, 01 Januari 2010
2010
Langganan:
Komentar (Atom)








