Senin, 28 Juli 2008

makhluk sempurna

sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, dalam menapaki hidup akupun terkadang melakukan kesalahan, aku pernah menyakiti orang lain bahkan membuat mereka menangis. Tapi tak pernah sedikitpun ada niat dalam diri untuk melakukan itu semua, kalaupun toh sampai apa yang aku lakukan membuat orang lain meneteskan air mata, menggoreskan kesedihan di hatinya ataupun menancapkan luka dalam hidupnya itu semua karena aku bukan makhluk sempurna yang mampu memberikan kebahagiaan untuk mereka yang menginginkannya, aku hanya manusia lemah dengan segala keterbatasan yang kumiliki....namun aku akan selalu berusaha untuk membuat senyum terus merekah di dunia ini.

Rabu, 16 Juli 2008

dua makna

Ini cerita orang Sunda dengan orang Jawa:
Sebuah bus angkot di Bandung ketika melintas di depan Stasiun Hall tiba-tiba berhenti karena ban belakang kempes. Si sopir yang kebetulan asli Bandung kemudian turun untuk mengecek dan berniat mengganti ban tersebut dengan ban cadangan. Cecep sang sopir berteriak kepada Karyo keneknya yang merantau dari Solo agar mengambilkan dongkrak untuk mengganti ban yang kempes tersebut.
Cecep: "Yo, Cakot teu dongkrak !"
Karyo: "Atos"
lima menit menunggu ternyata dongkrak yang diminta belum diberikan kembali Cecep berteriak: "Yo, Cakot teu dongrak!"
kembali Karyo menyahut; " Atos"!
Cecep yang dah 15 menit di bawah mobil kembali berterik lebih keras : "Yo, Cakot teu dongkrak euy!"
Kali ini Karyopun balas berteriak tah kalah serunya: " Edan, kamu atos, ngerti gak?!!
apa yang terjadi kemudian? Kedua orang sopir dan kenek yang tadinya bekerja dalam satu angkot tersebut berantem!
Cerita lain orang Sunda dengan orang Betawi.
Asep yang asli Garut bekerja sebagai penggali sumur di Jakarta. Suatu saat usai menggali sumur, dia hendak naik ke atas namun ketika hendak menginjakkan kakinya ke bibir sumur dia terpeles dan jatuh ke dalam sumur berkedalaman 20 meter dengan air setinggi 2 meter itu.
Di atas temennya Rojali yang asli Betawi berniat mengulurkan tali untuk menolong Asep yang sudah megap-megap di air karena tak bisa renang. "Gue kasih tali Sep, pegangin Ye!" teriak Rojali.
Dari bawah Asep menyahut: " Taraja!"
Rojali segera membalas: " Taraje gimane, emang lo mau berendem? Sekarang gue turunin nih tali!"
Kembali Asep berteriak: "Taraja!"
Rojali yang hendak menolong temannya jadi jengkel dengan jawaban si Asep. "eh..mau ditolongin kok taraje, taraje, ya udah kalo mo jadi kodok!" sungutnya sambil ninggalin kawannya yang gelagepan di dalam sumur.
di atas dua contoh komunikasi dua budaya yang berbeda. Satu kata bisa memiliki makna yang berbeda bagi dua budaya yang berbeda karena ketiadaan kesamaan paham maka yang terjadi kemudian justru kejadian fatal.
catatan:
"Cakot" menurut Cecep artinya "ambil" sedangkan bagi Karyo artinya "gigit" sedangkan "atos" dalam bahasa Sunda berarti "sudah" tapi versi Jawa adalah "keras".
"Taraja" menurut Asep yang asli Sunda adalah "tangga" sedangkan bagi Rojali yang betawi dari kata "bentar aja" ato "nanti saja"

little thing

Aku tiba-tiba tersadar... selama ini terlalu fokus berpikir, mencurahkan energi bahkan hidupku hanya untuk satu hal kecil dalam kehidupan ini sementara hal-hal yang lebih besar justru aku abaikan, aku tinggalkan, termasuk diriku dan kehidupanku yang sesungguhnya tak kuperhatikan.
Kadang kita memang berusaha begitu keras hingga mengeluarkan darah dan air mata hanya untuk memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya akan berjalan mengikuti kita tanpa harus meninggalkan sesuatu yang lebih hakiki dan memang seharusnya diperjuangkan dalam hidup ini.
God...give me your power to make a change in my life!

Senin, 14 Juli 2008

homesick

Duh...kangen banget pingin pulang kampung. Biasanya sebulan sekali aku balik ke kampung halaman--kelamaan di Jakarta bisa-bisa overload deh otak dengan stress yang menimpa setiap hari gak soal macet, panas, polusi, kerjaan seabrek-abrek....n (mungkin karena) masih ngejomblo :)
Dah sebulan lebih aku gak pulang Klaten, my lovely homeland, kangen ma kota kecil itu, ma ortu yang tinggal ibu doang n tentu saja ma ponakan-ponakan yang kalo ketemu bikin sebel--abis selalu minta dianter jalan2, bodo amat om nya pulang buat refreshing n turunin mesin yang kecapean selama sebulan berkutat hidup di belantara ibu kota.
Dih...mungkin masih harus nahan kangen sejenak sampai weekend datang buat meluncur ke my little hometown.....yang adem, ayem, tentrem sampai bikin merem2.

Selasa, 08 Juli 2008

helm....oh....helm

hari ini konpers di deptan...undg setengah 3, tapi kebiasaan orang Indonesia ngaret so acara baru mulai jam tiga (sore) lebih. Blaa....blaa...blaa.....sampai jam 5. My God...dah sore baget, jalan macet, belum buat laporan. Daripada terjebak macetnya jalanan, sampe kantor cape duluan sbelum selesein kerjaan akhirnya aku putusin buat brta di Deptan aja, untung Bos Jamal lagi baik hati, dibeliin deh kita siomay-- coz Rani kelaperan juga kayaknya--, lumayan buat ganjel perut....nyam..nyam..nyam sampe gak terasa dah jam 7, time to cabut ke markas masing-masing.
Sampai di tempat motor.....astaga...helmku sudah tidak ditempatnya....Sial, siapa yang iseng ngerjain gue (pikirkua), tanya tukang parkir dia bilang gak nyimpen....Wah pasti ada yang nyolong nih! Goodnes...kaos tangan yang aku biasa taruh di helm ternyata dibuang gitu aja di bawah motor....dan helmnya bener-benar dibawa kabur oleh sang pencinta helmku!:( helm...oh....helm!
Ok, itu baru helm yang hilang--bisik hatiku menenangkan diri--banyak orang yang kehilangan benda-benda berharga kesayangan mereka bahkan banyak yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai (sodara, orang tua, anak, suami, istri or kekasih). So introspeksi diri kenapa bisa kehilangan sesuatu. untuk helm mungkin gak dikunci or dibawa aja masuk daripada mengundang nafsu orang lain untuk memilikinya, untuk kehilangan orang-orang yang dicintai mungkin selama ini kita kurang perhatian ke mereka....atau memang Tuhan punya rencana lain dengan mengambil titipanNya ke kita. (waduh jadi nglantur gini ya..hee..heee..hee)


Rabu, 02 Juli 2008

leila


Leila Ch Budiman, pengasuh rubrik konsultasi psikologi di Kompas Minggu mulai 29 Juli kemarin mengundurkan diri dari tugasnya yang selama ini telah banyak membantu jutaan masyarakat yang mengalami persoalan. Yah dengan alasan sudah 25 tahun beliau menjaga gawang rubrik konsultasi tersebut dirinya kini ingin total menjaga gawang rumah tangganya dengan Arif Budiman.


Satu hal yang tak pernah aku lewatkan ketika membaca Kompas Minggu (waktu aku SMA sudah membaca rubrik nya ibu Leila ini) adalah rubrik konsultasi psikologi yang diasuh ibu Leila ini (tanpa memandang rendah pengasuh yang lain). Ada satu hal yang membuatku senang membaca uraian-uraian dari ibu yang satu ini, dia selalu mengatakan dengan kelembutan, dengan kasih dan yang amat sangat mencengangkan, dia tidak pernah terlihat membela satu pihak (meskipun dia mungkin dalam posisi korban) atau menghakimi pihak lainm (sekalipun dia menjadi "terdakwa"), Dengan bijaknya si ibu ini bisa mencari celah kelebihan dan kekurangan dua belah pihak yang bermasalah untuk dijadikan sebagai bahan penyelesaian persoalan mereka.


Yah aku salut banget dengan Ibu Leila n merasa ada yang hilang ketika nanti tidak lagi bisa menemukan tulisan2nya di media massa lagi. Tapi bagaimanapun keputusan yang sudah diambilnya harus dihargai, karena itu merupakan hak dia dan yang terbaik buat Ibu Leila sekeluarga. Salut kepada Leila Ch. Budiman, sukses dengan tugas barunya....tetap ditunggu tulisan2nnya yang mencerahkan.