Rabu, 30 Juni 2010

tengah tahun

pertengahan tahun sudah terlewati, waktu merambat begitu cepat dan dalam kepastian segera mencapai penghujung. Besuk memasuki semester II tahun ini, saatnya mengevaluasi kembali perjalanan yang sudah dilalui enam bulan ini. Sepertinya target-target yang disusun pada awal tahun banyak yang belum terwujud, sementara waktu semakin tak mau diajak kompromi.

Selasa, 22 Juni 2010

starting point

peristiwa demi peristiwa kurang menyenangkan silih berganti mendera diriku. meskipun hidup tak selamanya memang indah, namun sejumlah moment kelabu sempat membuat diri seperti terpuruk terlempar jauh ke dasar bumi. namun terus menerus meratapi kegagalan bahkan menguras air mata kesedihan tak kan membawa diri keluar dari persoalan, bisa jadi menambah masalah baru.
kini yang harus dilakukan adalah mencari celah yang masih tersisa untuk mendapatkan cahaya kehangatan dari luar. peluang masih banyak terbentang di luar sana. hanya perjuangan, sabar dan kerja keras lah yang bisa mengantarkan diri meraih impian dan cita-cita.
kekecewaan hari ini dan masa lalu, bukan menjadi halangan untuk meraih hari depan. Saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai langkah baru, kembali ke titik non untuk mengawali perjuangan. Let's go and do it now, you will get what you never think before.....

Kamis, 10 Juni 2010

rolling

"rolling", sebuah kata dalam bahasa Inggris yang artinya menggelinding. Kosa kata ini cukup akrab dalam dunia kerja. rolling diartikan pindah (seperti benda yang menggelinding kali). di rolling tentu saja dipindah tugasnya, bagiannya ataupun bisa jadi posisinya. selain rolling, pindah tugas biasanya juga dikenal dengan mutasi.
Jika mutasi biasanya lebih banyak dikenal di lingkup militer ataupun birokrasi, namun rolling lebih sering digunakan dalam dunia pers, media ataupun jurnalistik. Rolling ini sering ditujukan pada wartawan yang dipindah desk/redaksinya. Misalnya dari redaksi ekonomi dia dirolling ke redaksi hukum ataupun liputannya dari bidang seni dirolling ke olah raga.
Rolling bagi sebagian orang (baca: wartawan) bisa jadi merupakan hal yang biasa-biasa saja, karena memang itu hal biasa dalam dunia jurnalistik. Atau bisa jadi merupakan hal yang menyenangkan karena bisa memperoleh dunia baru, suasana liputan yang berbeda, teman dan jaringan yang lebih luas.
Namun sebaliknya ada juga sebagian orang menyikapinya sebagai sebuah kekuatiran. dirolling artinya harus kehilangan teman-teman atau jaringan yang telah terbentuk selama ini, mendapatkan tugas baru yang harus belajar dari nol, beradaptasi dengan lingkungan baru yang belum tentu mengenakkan, liputan yang bisa jadi tidak sesuai dengan minat dan bakatnya dan segala macam hal lainnya.
Orang-orang semacam ini akan (sebisa mungkin) menghindari rolling bahkan jika mungkin menolaknya dan berusaha membatalkannya. Memang diakui ada tempat-tempat atau bidang tertentu yang menjadikan seseorang betah di dalamnya dan enggan untuk dipindahkan, alasannya apalagi kalau bukan karena "basahnya" tempat itu. Orang-orang tertentu akan bersikukuh untuk tetap menempati posisi/desk di situ. Kalaupun dia sudah dirolling ke bidang lain maka dengan jaringan yang telah dibentuknya selama ini dia tetap 'bergerilya" di pos nya yang lama.
Bagaimana akan menjadi seorang yang tangguh dan memiliki pengalaman luas jika diberikan dunia baru saja gamang. Bagaimana akan menjadi journalis handal jika gelisah menghadapi medan yang baru. Ahh...........batu saja harus menggelinding dari puncak gunung jika ingin sampai ke laut.

Rabu, 09 Juni 2010

kotak pandora

Saat mengambil keputusan ini aku berharap bisa menyelesaikan salah satu persoalan yang aku hadapi selama ini, yakni keinginan untuk hidup mandiri dan tidak lagi menumpang di tempat famili, namun kenyataan yang terjadi justru masalah baru yang lebih rumit dan selama ini aku hindari telah siap menghadang di depanku.
Yah...sudah 12 tahun aku hidup di Jakarta, namun hingga saat ini aku masih menyandang status "penumpang" alias nebeng tinggal di rumah saudara. Tak perlu diceritakan disini tidak enaknya tinggal menumpang, sekalipun itu famili sendiri. Intinya lebih enak tinggal secara mandiri. Namun aku sendiri ntah mengapa bisa juga numpang tingal bertahun-tahun.
Mungkin karena desakan keadaan atau sudah tidak enak sendiri, aku mencoba untuk mencari rumah agar tidak lagi menyandang gelar "penumpang" dan yang jelas aku juga ingin menikmati kehidupan secara mandiri tanpa ada "gangguan" di sana-sini.
Akhirnya sebuah "rumah" aku dapatkan. Mestinya aku gembira sudah mendapatkan apa yang aku cari. Impian dan keinginan untuk bisa melepaskan penat setelah pulang kerja di istana sendiri mengiang-ngiang di pikiran.
Bayangan setiap hari libur bisa bermalas-malasan tanpa merasa sungkan dan gerah hati sudah mendesak-desak di dalam kepala. Semangat untuk menghasilkan karya dari tempat kerja sendiri sudah meledak-ledak.
Namun tiba-tiba aku merasa sudah terlalu lelah sebelum, impian, bayangan dan semangat itu terkalahkan oleh keruwetan yang seakan sudah membayang di depan mata. Entah karena aku salah melangkah atau karena terburu-buru memutuskan, bukan sebuah "istana" yang siap mengantarkanku menjadi "raja" namun sebuah "gudang" yang seperti kotak pandora, jika dibuka siap memunculkan segala macam makhluk mengerikan maupun monster yang siap memangsa.
Saat ini aku seperti dalam posisi masuk lumpur, jika mundur tubuhku sudah terlanjur terkena lumpur (yg pasti tidak bisa mundur lagi) namun untuk maju sampai tempat tujuan akupun harus siap masuk ke lumpur yang lebih dalam lagi, yang jika tidak hati2 justru akan menghisapku dan menyeretku tenggelam.
Tetapi meratap dan menunggu dalam ketakutan untuk melangkah bukanlah sebuah tindakan yang benar juga. Mau tidak mau aku mesti menerjang semua masalah yang siap menghadang di depan, karena di depan sana juga sudah siap menyongsong fajar baru. Indahnya mentari pagi hanya bisa dinikmati setelah kita berhasil melewati malam yang mencekam.

Kamis, 03 Juni 2010

berliku

jalan menuju impian itu
masih berliku dan jauh
namun harus tetap dilewati
dengan penuh perjuangan
dan kesabaran.....