
Entah sejak kapan pasar ini ada, namun yang jelas pasar yang hanya muncul setiaP Legi--nama pasaran menurut penanggalan Jawa--itu selalu dipadati pengunjung dan tentu saja juga para penjualnya. Pasar yang lokasinya di Desa Bonyokan Kecamatan Jatinom Klaten ini, sebenarnya bukan merupakan pasar yang sesungguhnya, karena hanya mengambil tempat jalanan desa di pinggir lapangan bola. Barang-barang yang dijual sebagian besar merupakan barang-barang bekas seperti onderdil sepeda, sepeda motor dan mobil. Peralatan rumah tangga seperti tang, obeng, catut, palu hingga alat-alat pertukangan seperti sabit, cangkul, maupun ketam.
Barang-barang loakan, atau biasa disebut klithikan, inilah yang banyak dicari pembeli, yah umumnya para penggemar otomotif akan berburu onderdil yang asli namun murah. Tak hanya sebatas perkakas otomotif namun juga barang elektronika lain seperti televisi, radio ataupun tape recorder yang tentu saja sudah sangat jadul alias jaman dulu.
Meskipun barang-barang yang dijual umumnya barang bekas namun justru disinilah yang membuat pasar ini menjadi unik dan selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Sebenarnya pasar ini tak hanya menjadi sebuah tempat jual beli semata namun ajang berkumpul dan berinteraksinya penjual dan pembeli ataupun masyarakat dari berbagai kalangan dan tempat.
Di sinilah interaksi sosial antar warga terjadi dengan hangat dan cair, sehingga fungsi pasar sebagai tempat bersosialisasi benar-benar terasakan. 

Tak hanya menjual barang-barang loakan, di pasar ini juga menjadi tempat memperkenalkan mode pakaian terbaru. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan baju-baju yang dijual di mall ataupun butik-butik yang begitu mahal dan glamour, namun setidaknya baju-baju yang ada di pasar Legen ini bisa membuat para konsumen yang umumnya warga pedesaan bisa sedikit merasa tampil lebih fesyen dan tidak ketinggalan jaman.
Di pasar ini para komunitas penggemar sepeda onthel pun juga terwakili keberadaannya, karena di jual pula sepeda-sepeda onthel yang umurnya ada yang 30 tahun hingga 60 tahun, keluaran India hingga Belanda dan harganya Rp500 ribu hingga Rp5 jutaan.
Jika pemerintah ingin memberdayakan ekonomi rakyat, mungkin pasar-pasar seperti inilah yang perlu lebih banyak dikembangkan, bukan hanya mall-mall yang sudah jauh dari kehidupan sosial dan hanya merupakan penjara-penjara ekonomi.
